
NEGARA, BALIPOST.com – Dampak penumpukan kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk yang mengular panjang Sabtu (26/9) hingga Minggu (27/9) mengharuskan pengalihan arus ke jalan permukiman bahkan gang. Kondisi ini memicu protes warga Gilimanuk lantaran akses keluar-masuk permukiman mereka mendadak lumpuh. Sejumlah warga yang hendak keluar menggunakan kendaraan roda empat kesulitan lantaran gang dipenuhi kendaraan yang antre ke Pelabuhan Gilimanuk.
Lurah Gilimanuk, Ida Bagus Tony Wirahadikusuma, mengatakan, warganya merasa sangat keberatan dengan masuknya truk-truk berukuran besar ke area pemukiman tanpa adanya arahan dan penjagaan dari petugas berwenang di titik-titik krusial tersebut. Padahal, penanganan dampak antrean ini sebelumnya sudah sempat dibahas bersama instansi terkait.
“Sebelumnya kami sudah mengadakan rapat koordinasi dengan pihak kepolisian dan ASDP, namun fenomena antrean seperti ini tetap saja terulang kembali,” ujar Tony.
Ia menambahkan, keluhan warga kian meluas karena para pengemudi armada besar kerap tak mau mengalah atau memberikan ruang jalan. Kondisi ini terpantau sangat parah di kawasan padat seperti di depan Pasar Gilimanuk dan Masjid Al Mubarok, di mana warga kesulitan menyeberang saat hendak beribadah maupun menggelar acara hajatan.
“Apalagi saat ini banyak warga yang punya hajatan. Setiap hari deretan kendaraan mengular panjang karena kantong parkir pelabuhan penuh sesak. Imbasnya meluber ke badan Jalan Nasional Denpasar-Gilimanuk hingga mengular ke gang permukiman,” jelasnya.
Hingga Minggu siang, ekor antrean kendaraan keluar Bali masih mengekor hingga melewati pertigaan Cekik masuk kawasan hutan di Monumen Lintas Laut Gilimanuk atau sekitar 3,5 kilometer.
Kapolsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, AKP Gusti Kade Alit Mudiarsa mengatakan, situasi wilayah penyeberangan secara umum masih dalam kondisi aman dan terkendali. Menurutnya, penumpukan ini merupakan dampak domino pascapenutupan sementara akses Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
“Situasi secara umum aman dan kondusif. Kondisi penumpukan ini merupakan efek berantai dari aksi protes para pengemudi di Ketapang sebelumnya,” ungkap AKP Alit Mudiarsa.
Guna menekan dampak kepadatan agar tak terus meluas ke kawasan permukiman, Polres Jembrana memperketat penjagaan dengan menyiagakan personel gabungan dari Satuan Lalu Lintas dan Satuan Samapta di berbagai titik rawan. Pihak kepolisian juga meminta kesadaran para sopir logistik dan pengemudi kendaraan agar tetap tertib di lajur utama, mematuhi petunjuk petugas, serta tidak memotong jalan melalui jalur alternatif atau gang pemukiman warga yang justru memperparah kemacetan. (Surya Dharma/balipost)










