
MANGUPURA, BALIPOST.com – Gubernur Bali Wayan Koster memilih transportasi trem otonom terpadu (Autonomous Rail Transit/ART) menggantikan wacana pembangunan Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT).
Ia pun mengungkapkan alasan lebih memilih ART. “Karena (ART) jauh lebih efisien dan secara teknologi lebih mudah,” kata Koster dikutip dari Kantor Berita Antara, Kamis (6/8).
Untuk tahap awal, lanjut dia, Pemerintah Provinsi Bali sedang menyusun peraturan Gubernur Bali untuk mengakomodasi ART karena belum diatur dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW).
Gubernur asal Desa Sembiran, Kabupaten Buleleng itu tidak memberikan detail lokasi dan alokasi anggaran untuk pembangunan ART itu.
Namun, ia mengungkapkan target pembangunan ART diperkirakan mulai 2027.
Sebelumnya, dalam rapat kerja Komisi V DPR RI, Menteri Perhubungan RI Dudy Purwagandhi Rabu, 8 April 2026, menjelaskan bahwa ada minat dari investor untuk membangun transportasi massal seperti MRT dan Light Rail Transit (LRT) di Pulau Dewata.
Namun, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan investor yang datang dan membicarakan mengenai pengembangan kereta tersebut.
“Kami tetap berusaha mencoba menawarkan kepada pihak investor yang tertarik kepada pengembangan jalur kereta baik LRT dan MRT di Bali,” ucap Menteri Perhubungan seraya menambahkan solusi alternatif yaitu taksi air.
Selain itu, pada September 2024 juga sudah dilakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan kereta bawah tanah (subway) di Sentral Parkir Kuta, Kabupaten Badung.
Namun, kelanjutan proyek yang dikelola oleh PT Sarana Bali Dwipa Jaya atau SBDJ yang merupakan cucu perusahaan daerah PT Jamkrida Bali Mandara, hingga saat ini tidak kunjung terbangun.
Alasannya karena belum ada mitra investor dalam pengembangan dan pendanaannya. (kmb/balipost)










