
DENPASAR, BALIPOST.com – Rencana pembangunan transportasi massal berbasis rel yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai hingga kawasan Canggu semakin konkret. Gubernur Bali, Wayan Koster menyebut PT Kereta Api Indonesia (KAI) telah tiga kali memaparkan rencana proyek tersebut dan anggarannya telah disiapkan.
Hal itu disampaikan Koster di sela-sela Rapat Paripurna ke-51 DPRD Provinsi Bali, Senin (21/9). Menurut Koster, pembangunan transportasi massal tersebut ditargetkan mulai dilaksanakan pada 2027 untuk menangani kepadatan lalu lintas, khususnya di koridor Bandara Ngurah Rai-Canggu.
“KAI sudah tiga kali paparan, sudah oke, anggarannya juga sudah disiapkan, jadi mulai 2027 akan dibangun kereta,” ujar Gubernur Koster.
Koster menegaskan pembangunan transportasi di Bali tidak hanya mempertimbangkan aspek teknologi, tetapi juga harus memperhatikan keunikan budaya, lingkungan, pariwisata, permukiman, hotel, akomodasi wisata, serta kehidupan masyarakat yang berada di sepanjang trase.
Desain transportasi tersebut, kata Koster, akan mengusung estetika budaya Bali sehingga keberadaan infrastruktur baru tetap selaras dengan karakter Pulau Dewata. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemprov Bali agar pengembangan transportasi tidak mengganggu identitas dan daya tarik pariwisata Bali.
Gubernur Koster mengatakan proyek tersebut merupakan tindak lanjut arahan Kementerian PPN/Bappenas kepada Direktur Utama KAI untuk membantu mengatasi persoalan kemacetan di jalur Bandara Ngurah Rai menuju Canggu. Peletakan batu pertama atau groundbreaking juga ditargetkan dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Rencana transportasi massal ini sebelumnya telah memasuki tahap kerja sama antara Pemprov Bali, Pemkab Badung, dan PT KAI. Ketiga pihak menandatangani kesepakatan pengembangan perkeretaapian di Bali pada 1 September 2026.
Moda yang disiapkan berupa trem listrik berbasis baterai, dengan rute yang menghubungkan Bandara Ngurah Rai, Kuta, Legian, Seminyak hingga Canggu. Berdasarkan kesepakatan tersebut, panjang keseluruhan proyek mencapai sekitar 13,1 kilometer dan dikembangkan dalam dua fase.
Fase pertama mencakup Bandara-Legian sepanjang 6,6 kilometer, sedangkan fase berikutnya menghubungkan Legian-Seminyak-Canggu sepanjang 6,5 kilometer. Pemkab Badung sebelumnya menyebut target operasi komersial fase Bandara-Legian pada kuartal IV 2028, sementara fase Legian-Seminyak-Canggu ditargetkan pada kuartal I 2031.
Pemprov Bali juga sebelumnya menyebut groundbreaking proyek trem listrik tersebut ditargetkan pada Maret 2027.
Kehadiran trem diarahkan menjadi salah satu solusi terhadap tingginya mobilitas di kawasan Bali Selatan. Data yang disampaikan dalam pengembangan proyek menunjukkan koridor Bandara Ngurah Rai-Canggu memiliki mobilitas harian hingga sekitar 150.000 orang dan 80.000 kendaraan.
Dalam rancangan awal yang dipaparkan sebelumnya, trem menggunakan teknologi baterai sehingga tidak membutuhkan kabel listrik di sepanjang jalur. Konsep tersebut dipilih dengan mempertimbangkan karakter kawasan Bali serta kebutuhan untuk menjaga kualitas lingkungan dan visual kawasan pariwisata.
Sebelumnya, Gubernur Koster menyampaikan trem dipilih sebagai konsep transportasi yang dinilai sesuai dengan karakter Bali dibandingkan wacana pembangunan MRT maupun LRT. Teknologi baterai dinilai memungkinkan moda tersebut dikembangkan tanpa pemasangan kabel listrik di sepanjang trase.
Dalam tahap selanjutnya, pembangunan masih membutuhkan penyelesaian studi teknis, kajian trase, serta koordinasi mengenai lahan, depo, perizinan dan integrasi dengan jaringan transportasi lainnya. Pemkab Badung dan KAI juga menyatakan perlunya kajian komprehensif agar trem terintegrasi dengan jaringan jalan dan kawasan pariwisata. (Ketut Winata/balipost)










