Petugas memantau perkembangan analisis anomali suhu muka laut melalui layar monitor di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal kuartal I 2027 sehingga berpotensi memicu musim kemarau yang lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia. (BP/Antara)

JAKARTA, BALIPOST.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk mewaspadai ancaman kesehatan masyarakat, seperti heatstroke dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), selama berlangsungnya musim kemarau tahun ini.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan di Jakarta, Kamis (30/7), menyampaikan bahwa minimnya tutupan awan selama musim kemarau memicu peningkatan suhu udara secara terik di berbagai wilayah.

“Tidak kalah penting juga sektor kesehatan. Sejalan dengan musim kemarau, itu biasanya cuaca panas karena kondisi pada saat musim kemarau biasanya tutupan awan itu rendah,” katanya dikutip dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Timnas Indonesia Tantang Tuan Rumah di Putaran Keempat, Berikut Jadwal Lengkapnya

Ardhasena menjelaskan bahwa kondisi suhu ekstrem akibat tutupan awan yang amat tipis berpotensi memicu heatstroke atau sengatan panas, terutama bagi warga yang beraktivitas cukup lama di luar ruangan.

Selain ancaman suhu tinggi, penurunan kualitas udara akibat debu dan potensi asap kebakaran selama kemarau turut meningkatkan paparan penyakit pernapasan.

“Kondisi penurunan kualitas udara ini sangat berasosiasi dengan timbulnya penyakit ISPA di tengah masyarakat,” katanya menjelaskan.

Diketahui sebagaimana laporan harian kondisi cuaca, BMKG mendeteksi suhu panas maksimum harian yang mencapai 30- 34 derajat Celsius di sejumlah daerah dalam 24 jam terakhir. Adapun seperti di sebagian besar wilayah Lampung, Kualanamu, Semarang, Banyuwangi, Sentani, dan Gorontalo.

Baca juga:  Empat Kabupaten Nihil Tambahan Kasus COVID-19

Demi mengurangi dampak suhu panas tersebut BMKG mengimbau masyarakat untuk mengkonsumsi air minum secara cukup dan teratur, supaya terhindar dari dehidrasi, terutama saat melaksanakan kegiatan di luar ruangan.

Kemudian menggunakan pelindung seperti topi atau payung untuk melindungi kepala dan tubuh bagian atas, kacamata hitam untuk melindungi mata, bila perlu menggunakan tabir surya untuk melindungi kulit dari paparan sinar Ultra Violet (UV).

Baca juga:  Buronan Interpol Kanada Ditangkap di Canggu

Ardhasena menekankan sektor kesehatan menjadi salah satu bidang kritis yang harus melakukan langkah antisipasi cepat guna menekan angka kesakitan akibat paparan cuaca ekstrem.

Langkah mitigasi yang disarankan BMKG mencakup imbauan penggunaan pelindung diri, pemenuhan hidrasi harian bagi pekerja lapangan, serta pencegahan paparan polusi udara terbuka.

“BMKG terus memperbarui analisis pemantauan dinamika atmosfer dan laut tahun 2026 guna mendukung pemetaan daerah rawan masalah kesehatan lingkungan,” kata dia. (kmb/balipost)

BAGIKAN