BPBD Bali terjun langsung ke lokasi peristiwa banjir akibat hujan deras di Banjar Dinas Tengah, Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem, Senin (27/7). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Musim kemarau di Bali ternyata belum sepenuhnya identik dengan cuaca cerah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat sedikitnya 35 peristiwa kebencanaan di berbagai kabupaten/kota selama periode 19–26 Juli 2026.

Selain meningkatnya kasus kebakaran, hujan lebat dan angin kencang juga masih memicu banjir, pohon tumbang hingga tanah longsor.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, I Gede Teja, mengatakan rangkaian kejadian tersebut menunjukkan bahwa musim kemarau tidak berarti Bali terbebas dari ancaman bencana hidrometeorologi.

Dari total 35 kejadian, sebanyak 13 merupakan kebakaran gedung dan permukiman, enam kebakaran hutan dan lahan, satu kebakaran lainnya, lima kejadian cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin kencang, sembilan pohon tumbang, serta satu kejadian tanah longsor.

“Secara umum situasi kebencanaan di Bali masih terkendali dan tidak ada kejadian yang berdampak secara masif. Namun masyarakat tetap harus meningkatkan kewaspadaan karena berbagai potensi bencana masih terjadi,” ujar Teja, Senin (27/7) malam.

Kabupaten Buleleng menjadi wilayah dengan jumlah kejadian terbanyak, yakni 12 titik. Disusul Karangasem delapan kejadian, Klungkung empat kejadian, Gianyar dan Denpasar masing-masing tiga kejadian, Badung dua kejadian, serta Tabanan, Bangli, dan Jembrana masing-masing satu kejadian.

Baca juga:  Dari Bocah SD Diperkosa Tetangga hingga Puluhan Ribu Wisman Datang ke Bali

Di Buleleng, berbagai kejadian didominasi kebakaran. Mulai dari kebakaran dapur di Desa Penglatan, kebakaran warung buah di Desa Kaliasem, kebakaran lahan kering sekitar 20 are di Desa Banjar, hingga kebakaran hutan seluas kurang lebih 15 hektare di kawasan atas Pura Kertakawat, Banjar Dinas Kertakawat, Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak.

Selain itu, beberapa pohon tumbang juga dilaporkan terjadi di wilayah tersebut. Salah satunya menimpa sebuah warung di Banjar Dinas Geria, Desa Banyupoh. Sementara pohon tumbang di Banjar Dinas Munduk Sari, Desa Pengulon, Kecamatan Gerokgak, mengakibatkan satu warga mengalami luka ringan.

Karangasem menjadi daerah dengan ragam bencana paling beragam. Delapan kejadian yang tercatat meliputi pohon tumbang, tanah longsor, kebakaran lahan, serta dampak hujan deras dan angin kencang.

Di Banjar Dinas Kebung Kauh, Desa Telaga Tawang, Kecamatan Sidemen, hujan deras menyebabkan air meluap hingga menggerus jembatan dan memutus akses jalan. Di Banjar Dinas Tabu, Desa Tangkup, Kecamatan Sidemen, hujan juga menyebabkan sebuah dapur warga roboh.

Kejadian serupa turut terjadi di sejumlah daerah lainnya. Di Gianyar terjadi kebakaran rumah dan kantor koperasi. Badung mencatat kebakaran semak akibat pembakaran sampah serta kebakaran lahan kosong. Tabanan mengalami satu kejadian pohon tumbang di Banjar Candi Kuning, Desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti.

Baca juga:  Hari Ini, Seluruh Kabupaten/kota Catatkan Kasus di Bawah 10

Di Klungkung, kebakaran melanda sebuah restoran, merajan, dan tempat ibadah, disertai kejadian pohon tumbang. Sementara di Denpasar terjadi kebakaran lahan kering, rumah kos, dan merajan. Bangli melaporkan kebakaran rumah makan, sedangkan Jembrana mengalami kebakaran lahan.

Meski periode pendataan berakhir pada 26 Juli, kondisi cuaca ekstrem masih berlanjut. Pada Senin (27/7) pagi, BPBD Bali kembali menerima empat laporan kejadian di Kabupaten Karangasem.

Peristiwa tersebut meliputi banjir akibat hujan deras di Banjar Dinas Tengah, Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem, pohon tumbang yang menutup jalan di Banjar Dinas Bukit Kauh, Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, senderan sungai jebol di Banjar Dinas Tengah, Desa Subagan, serta tembok jebol akibat hujan deras di Banjar Dinas Ketug, Desa Antiga, Kecamatan Manggis. Seluruh kejadian tersebut dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa.

Teja menjelaskan hujan lebat saat musim kemarau merupakan fenomena yang masih sangat mungkin terjadi. Menurutnya, musim kemarau bukan berarti hujan berhenti sepenuhnya.

“Perlu kami sampaikan bahwa musim kemarau bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Pada kondisi tertentu, hujan lebat masih dapat terjadi akibat pengaruh suhu permukaan laut yang hangat, tingginya kelembapan udara, aktivitas atmosfer seperti gelombang MJO dan gelombang ekuator, serta faktor topografi wilayah Bali,” jelasnya.

Baca juga:  BEM Unud Datangi Pemkab Klungkung, Pertanyakan Pengerukan Liar di Dawan Makin Meluas

Ia menambahkan, perubahan iklim turut membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi sehingga masyarakat tidak boleh lengah meskipun secara kalender Bali sudah memasuki musim kemarau.

Karena itu, BPBD Bali mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi hujan lebat, petir, angin kencang, banjir lokal, tanah longsor, dan pohon tumbang dengan selalu mengikuti informasi resmi BMKG.

Di sisi lain, ancaman kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan meningkat selama musim kemarau. BPBD mengingatkan masyarakat yang melakukan aktivitas di kawasan hutan, baik pendakian, persembahyangan, maupun mencari hasil hutan seperti madu, agar berhati-hati dan tidak menimbulkan sumber api.

Pengelola tempat pembuangan akhir (TPA) juga diminta rutin melakukan pendinginan untuk mencegah kebakaran. Sementara masyarakat yang mengalami kekeringan, kesulitan air bersih maupun gagal panen akibat kemarau diminta segera melapor kepada pemerintah desa atau BPBD kabupaten/kota agar penanganannya dapat segera dikoordinasikan.

“Intinya tetap waspada dan peduli lingkungan serta risiko sekitar. Kalau ada persoalan air bersih, kebakaran lahan atau hutan, maupun dampak lainnya, segera laporkan agar dapat dikoordinasikan penanganannya,” tegas Teja. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN