Kondisi air di Danau Batur di wilayah Seked dan Toya Bungkah, Kintamani, Bangli. (BP/istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Fenomena upwelling yang terjadi di Danau Batur, Kintamani, sejak Senin (20/7), meluas ke sejumlah titik lain. Letupan belerang dari dasar danau tersebut kini dilaporkan mulai muncul di wilayah Seked dan Toya Bungkah yang ditandai dengan perubahan warna air danau.

“Warna airnya sudah mulai berubah (di Seked dan Toya Bungkah). Mengenai dampak terhadap kematian ikannya, kami belum mendapat laporan,” ungkap Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, I Wayan Agus Wirawan, saat dikonfirmasi, Rabu (22/7).

Baca juga:  Perbaikan Traffic Light Mati Tunggu Tender  

Kemunculan fenomena alam tahunan ini telah menyebabkan kerugian bagi pembudidaya ikan Keramba Jaring Apung (KJA). Agus Wirawan mengungkapkan sekitar 20 ton ikan milik seorang pembudidaya di wilayah Dukuh mati akibat belerang. Bangkai ikan tersebut telah dikirim ke Unit Pengolahan Ikan (UPI) Jembrana untuk diolah jadi pakan ikan.

Sementara itu, jumlah kematian ikan di wilayah lainnya belum bisa dipastikan, sebab para pemilik KJA hingga saat ini belum berani mendekati lokasi keramba guna meminimalisir risiko kematian ikan. “Nanti setelah belerang mereda baru pembudidaya akan menengok ikannya ke KJA,” ujarnya.

Baca juga:  Air Terjun Carat

Agus Wirawan mengatakan saat ini kondisi letupan belerang di Abang Songan sudah mulai mereda. Sedangkan, di wilayah Buahan dan Kedisan kondisinya masih seperti hari sebelumnya.

Sebagaimana diketahui, fenomena naiknya belerang di Danau Batur merupakan siklus tahunan yang kerap terjadi pada rentang bulan Juni hingga September, serta terkadang di bulan Februari. Fenomena itu disebabkan karena tiupan angin kencang dan suhu dingin yang memicu perputaran air dan mengangkat belerang di dasar danau.

Baca juga:  Kasus Narkoba di Polresta Denpasar Turun, Diduga Karena Ini

Dinas PKP menurunkan petugasnya untuk terus memantau kondisi di lapangan. Sebagai langkah mitigasi untuk menangani bangkai ikan, Dinas PKP Bangli pun telah berkoordinasi dengan salah satu petani di wilayah Pengotan, yang biasa mengolah bangkai ikan untuk dijadikan pupuk organik. Langkah ini diambil agar bangkai ikan tidak mencemari lingkungan danau. (Dayu Swasrina/balipost)

 

BAGIKAN