
SINGARAJA, BALIPOST.com – Singaraja kembali menjadi titik temu para sastrawan dan filolog dari berbagai daerah di Indonesia melalui gelaran Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 yang akan digelar pada 3–5 Juli mendatang.
Festival yang memasuki tahun keempat penyelenggaraan ini akan kembali memusatkan kegiatan di kawasan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng. Selama tiga hari pelaksanaan, SLF 2026 menghadirkan sedikitnya 42 program yang mencakup diskusi panel, lokakarya, bedah buku, kuliah umum, pertunjukan seni, hingga ruang pertemuan komunitas dan pegiat budaya.
Sejumlah nama besar di dunia sastra dan akademik dipastikan hadir dalam festival ini. Di antaranya filolog Sugi Lanus, sastrawan Oka Rusmini, Romo A. Setyo Wibowo, Ratih Kumala, JS Khairen, Sasti Gotama, Prof. I Nyoman Darma Putra, I Ketut Eriadi Ariana, serta sejumlah penulis muda lainnya. Kehadiran mereka diharapkan memperkuat ruang dialog lintas generasi dalam membaca sastra, manuskrip, dan kebudayaan.
Pendiri sekaligus direktur festival, Kadek Sonia Piscayanti ditemui Senin (22/6) menegaskan bahwa SLF tidak hanya menjadi ruang pertemuan sastra, tetapi juga upaya serius menghidupkan kembali warisan pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip Bali, khususnya koleksi yang ada di Gedong Kirtya Singaraja.
Ia menjelaskan, tema tahun ini “Stri Sasana: Energi Keseimbangan Semesta” bersumber dari salah satu khazanah lontar Bali yang memuat nilai etika, moral, serta pandangan kosmologi masyarakat Bali masa lalu.
“Substansi Stri Sasana tidak dimaksudkan hanya untuk perempuan dan tidak pula menempatkan perempuan sebagai objek pasif. Naskah ini justru memuat nilai tentang ketangguhan, kebijaksanaan, dan martabat perempuan dalam menjalankan berbagai peran di masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, SLF juga diarahkan untuk memperkuat kembali posisi Gedong Kirtya sebagai pusat peradaban manuskrip yang memiliki potensi global, sekaligus memperluas akses publik terhadap warisan lontar yang selama ini masih terbatas.
Sementara itu, pendiri SLF lainnya, Made Adnyana Ole, menambahkan festival ini juga diharapkan memberi dampak ekonomi bagi daerah, terutama sektor pariwisata dan perhotelan di Singaraja dan sekitarnya.
“SLF menjadi daya tarik tambahan bagi Singaraja. Selain memperkaya ruang sastra, juga memberi dampak terhadap tingkat kunjungan dan hunian hotel,” ujarnya.
Singaraja sendiri memiliki sejarah panjang sebagai pusat intelektual di Bali. Gedong Kirtya sebagai perpustakaan lontar tertua di Bali menyimpan ribuan manuskrip yang mencakup berbagai bidang pengetahuan, mulai dari sastra, hukum, pengobatan, hingga kosmologi.
Namun, perubahan zaman dan pola literasi membuat banyak naskah kini semakin jauh dari pembacanya. Kondisi ini mendorong lahirnya SLF pada 2023 sebagai upaya menghubungkan kembali masyarakat dengan warisan pengetahuan tersebut melalui pendekatan festival budaya dan sastra.
Tahun ini, SLF menekankan pentingnya dialog antara tradisi dan modernitas melalui tema “Stri Sasana”. Festival ini ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai dalam manuskrip tidak hanya relevan secara historis, tetapi juga dapat ditafsirkan ulang dalam konteks kekinian, termasuk dalam isu kesetaraan dan peran perempuan.
“Dalam kosmologi Bali, perempuan dipandang sebagai bagian penting dari energi penciptaan dan keseimbangan semesta yang menopang harmoni kehidupan,”tandasnya. (Yudha/balipost)










