Petugas saat mengambil sampel otak anjing yang mengigit sejumlah warga di Tegal Badeng Timur. (BP/Olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Kasus gigitan anjing yang menyerang warga di Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, awal pekan lalu dipastikan positif rabies. Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel otak anjing tersebut akhir pekan lalu menunjukkan positif terinfeksi virus rabies.

Anjing jantan berwarna cokelat yang sebelumnya menggigit seorang warga dewasa serta seorang balita itu telah diambil sampel otaknya dan dikirim ke Balai Besar Veteriner Denpasar. Hasil uji laboratorium kemudian mengonfirmasi hewan penular rabies (HPR) tersebut positif rabies.

Salah seorang korban, Sodikun (47), Minggu (21/6), mengatakan, dirinya bersama dua korban lainnya telah mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR). Ketiganya telah menjalani vaksin tahap pertama dan dijadwalkan menerima suntikan lanjutan pada 23 Juni mendatang. “Kami bertiga sudah vaksin pertama. Nanti lanjut vaksin kedua tanggal 23. Totalnya harus tiga kali,” ujarnya.

Baca juga:  Korban Jiwa COVID-19 Bertambah 10 Orang, Kali Ini Termuda Berusia 25 Tahun

Ia berharap pemerintah segera melakukan langkah antisipasi agar kasus serupa tidak meluas di wilayah Desa Tegal Badeng Timur. Menurutnya, vaksinasi darurat terhadap anjing peliharaan maupun anjing liar perlu segera dilakukan.

Diharapkan ada upaya vaksinasi emergency yang menyasar seluruh HPR baik yang dipelihara maupun yang liar.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengatakan pihaknya akan segera melakukan penanganan menyusul hasil laboratorium yang menyatakan anjing tersebut positif rabies.

Sebelumnya, anjing bernama Bruno yang berusia sekitar tiga tahun itu diketahui telah ditelantarkan pemiliknya dalam kondisi sakit dan berada di lingkungan berbeda. Hewan tersebut kemudian menyerang sejumlah warga.

Baca juga:  Terlibat Narkoba, Warga Filipina dan Malaysia Diekstradisi ke Korsel

Korban pertama adalah Husein (5) yang mengalami luka gigitan pada paha kanan hingga berdarah.

Selain itu, Nara (4) juga sempat digigit, namun tidak mengalami luka. Kedua balita tersebut diduga diserang pada Minggu (14/6).

Sementara Sodikun menjadi korban berikutnya pada Senin (15/6) malam. Saat itu ia bersama sejumlah warga sedang berkumpul dalam acara syukuran malam Satu Suro di Gang Semar.

“Saya sedang berdiri sambil ngobrol, tiba-tiba anjing itu datang dari belakang dan menggigit kaki. Saat diusir malah menyerang lagi. Setelah saya lempar batu, baru anjing itu lari,” ungkapnya.

Baca juga:  Buntut Petisi Warga, Dishub Bali Pertimbangkan Ambil Alih Operasional TMD

Meski tidak menimbulkan luka terbuka, gigitan tersebut menyebabkan kaki Sodikun mengalami lebam dan bengkak. Atas saran warga, ia kemudian memeriksakan diri ke puskesmas.

Sehari kemudian, Selasa (16/6), anjing tersebut ditemukan mati di tepi jalan tidak jauh dari lokasi kejadian. Mengetahui hewan itu mati, para korban kembali mendatangi puskesmas untuk memperoleh VAR dan melaporkan kejadian tersebut kepada petugas.

Bangkai anjing selanjutnya diambil sampel otaknya untuk pemeriksaan laboratorium di Balai Besar Veteriner Denpasar. Setelah hasil keluar dan dinyatakan positif rabies, langkah penanganan darurat disiapkan guna mencegah penyebaran penyakit tersebut di wilayah sekitar. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN