
BANGLI, BALIPOST.com – Sudah lebih dari sepekan para pelanggan PDAM di wilayah Kota Bangli terpaksa harus menghadapi sistem pengaliran air secara bergilir. Pihak PDAM belum bisa menormalkan kembali pelayanan air bersih lantaran proyek penggantian pipa di sumber mata air Gamongan yang rusak dihantam longsor, hingga kini masih terganjal proses menunggu kiriman pipa pengganti dari pabrik.
Langkah pendistribusian air secara bergilir ini terpaksa diambil manajemen PDAM Bangli karena pasokan air yang dari pompa cadangan kapasitasnya terbatas. “Polanya bergilir, karena suplay kita kurang,” ungkap Kabag Teknik PDAM Bangli, I Wayan Gunawan, Senin (8/6).
Dijelaskan pipa di sumber mata air Gamongan rusak dihantam longsor pada 27 Mei lalu. Saat itu petugas teknis langsung bergerak cepat melakukan perbaikan pada 28–29, hingga air berhasil mengalir kembali ke reservoar pada tanggal 30 Mei. Namun pada tanggal 31, longsor susulan kembali terjadi dan menghanyutkan seluruh pipa yang baru saja dipasang. Longsor susulan membuat area kerusakan meluas hingga 200 meter, sehingga petugas harus pindah jalur.
“Sampai saat ini longsor masih terus terjadi karena tebing-tebing sisa longsor masih terbuka dan tiap hari masih ada runtuhan, sehingga kami tidak bisa kerja,” jelasnya.
Selain faktor alam, kendala utama PDAM belum bisa menormalkan kembali pasokan air karena masih menunggu pipa pengganti. Dijelaskan Gunawan, pihaknya membutuhkan sedikitnya 35 batang pipa ukuran besar untuk mengganti pipa yang rusak. Saat ini, baru ada 9 batang pipa yang berhasil terpasang di lapangan. Sementara sisanya masih harus menunggu pasokan/kiriman dari pabrik luar daerah.
Sementara itu disinggung mengenai solusi permanen untuk mengatasi masalah serupa yang sering terjadi di titik tersebut, Gunawan menyebut pihak manajemen masih menggodok solusi yang paling efektif dan efisien di internal.
“Kalau sudah klir di manajemen, nanti Pak Direktur yang akan menyampaikan solusinya,” tambahnya.
Tak kunjung normalnya distribusi air bersih di wilayah Kota Bangli mendapat perhatian dari Ketua DPRD Bangli, I Ketut Suastika. Ia meminta pihak PDAM tidak hanya melakukan penanganan darurat yang bersifat sementara, melainkan harus mulai memikirkan infrastruktur yang permanen.
“Ini memang bencana, dan bencana itu tidak terencana. Tapi penanggulangannya harus terencana. Karena masalah ini sudah sering berulang, harus dipikirkan antisipasinya agar tidak terus menjadi masalah tahunan,” tegas Ketut Suastika.
Menurutnya jika memang ada rencana pemanfaatan air bawah tanah (sumur bor) sebagai alternatif suplai, maka harus segera dilakukan kajian. Jika ada kendala anggaran, PDAM diminta segera berkoordinasi dan mengomunikasikannya dengan Bupati Bangli. “Yang penting lakukan dengan segera supaya pelayanan air jadi baik dan bagus,” kata Suastika.
Mengingat pentingnya kebutuhan air bersih terlebih menjelang hari raya, Ketua Dewan meminta agar pelayanan air ke masyarakat harus sudah klir secepatnya, sebelum Galungan. “Sebelum Galungan harus sudah Klir,” tandasnya. (Dayu Swasrina/balipost)









