Ilustrasi Penyakit Tuberkulosis (TBC). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dinas Kesehatan Provinsi Bali terus memperkuat upaya penemuan dan penanggulangan Tuberkulosis (TBC) di seluruh wilayah Bali. Hingga 5 Juni 2026, sebanyak 1.975 kasus TBC telah ditemukan di Bali berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menjelaskan bahwa penemuan kasus TBC dilakukan secara aktif melalui skrining pada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi tertular maupun menderita penyakit tersebut.

Berdasarkan data Dinkes Bali, Kota Denpasar menjadi daerah dengan jumlah kasus TBC ditemukan tertinggi yakni 760 kasus. Disusul Kabupaten Buleleng sebanyak 399 kasus, Kabupaten Badung 256 kasus, Kabupaten Karangasem 135 kasus, Kabupaten Gianyar 116 kasus, Kabupaten Tabanan 110 kasus, Kabupaten Jembrana 95 kasus, Kabupaten Klungkung 73 kasus, dan Kabupaten Bangli 31 kasus. Secara keseluruhan, jumlah kasus yang ditemukan di Bali mencapai 1.975 kasus.

Baca juga:  Hari Ini, Nasional Laporkan Kasus COVID-19 Baru Lebih Banyak dari Sehari Sebelumnya

Raka Susanti mengatakan, strategi utama yang dilakukan saat ini adalah meningkatkan skrining pada populasi berisiko, seperti kontak serumah dan kontak erat pasien TBC, penyandang diabetes melitus, orang dengan HIV, masyarakat dengan kondisi kurang gizi, kelompok lanjut usia, warga binaan pemasyarakatan di lapas maupun rutan, serta kelompok pekerja.

Selain itu, skrining TBC juga diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis yang tengah dijalankan pemerintah. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat deteksi dini kasus sehingga pengobatan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko penularan dapat ditekan.
“Upaya penemuan kasus dilakukan secara aktif melalui skrining pada kelompok berisiko dan terintegrasi dengan berbagai layanan kesehatan yang ada,” ujarnya, Sabtu (6/6).

Untuk memperluas jangkauan deteksi dini, dikatakan Dinkes Bali juga mendorong pembentukan Desa dan Kelurahan TBC. Program ini memungkinkan masyarakat melakukan skrining secara mandiri dan lebih cepat mengenali gejala penyakit di lingkungan masing-masing.

Baca juga:  Setahun, 9 Orang Jembrana Mati Akibat TBC

Penanggulangan TBC juga melibatkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), lintas sektor, serta komunitas masyarakat. Pelibatan berbagai pihak dinilai penting mengingat TBC masih menjadi salah satu penyakit menular yang membutuhkan penanganan berkelanjutan dan dukungan sosial yang kuat.

Di bidang diagnosis, Pemerintah Provinsi Bali memastikan ketersediaan alat Tes Cepat Molekuler (TCM) di seluruh kabupaten/kota. Selain alat pemeriksaan, jejaring layanan diagnosis juga terus diperkuat untuk mempercepat proses penegakan diagnosis TBC.

Dinkes Bali juga memastikan ketersediaan logistik pengobatan. Hingga saat ini, stok obat dan kebutuhan nonobat untuk penanganan TBC masih mencukupi dan dipastikan aman hingga akhir tahun 2026.

Pendampingan pasien selama menjalani pengobatan juga menjadi perhatian utama. Dukungan komunitas terus dioptimalkan untuk memastikan pasien menjalani terapi secara teratur hingga tuntas. Selain itu, petugas kesehatan melakukan pelacakan terhadap pasien yang mangkir atau putus berobat guna mencegah munculnya kasus TBC resistan obat.

Baca juga:  Banyak Manfaat Penataan Kawasan Suci Besakih

Sebagai bentuk dukungan pemulihan pasien, sejumlah kabupaten/kota juga memberikan bantuan makanan tambahan. Program ini diharapkan dapat membantu meningkatkan status gizi pasien sehingga proses penyembuhan berjalan lebih optimal.

Dengan berbagai langkah tersebut, Pemerintah Provinsi Bali menargetkan penemuan kasus TBC dapat terus meningkat sehingga rantai penularan penyakit dapat diputus lebih cepat dan target eliminasi TBC nasional dapat tercapai.

Raka Susanti mengungkapkan bahwa target penemuan kasus TBC di Bali yang ditargetkan pemerintah pusat tahun 2026 sebanyak 5.968. Sedangkan pada tahun 2025 ditargetkan sebanyak 6.485 kasus, namun realisasinya mencapai sekitar 83 persen. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN