
SINGARAJA, BALIPOST.com – Untuk memastikan daging hewan kurban aman dan layak dikonsumsi masyarakat saat Hari Raya Idul Adha 2026, Pemerintah Kabupaten Buleleng menerjunkan puluhan dokter hewan ke sejumlah lokasi pemotongan kurban. Pengawasan dilakukan secara menyeluruh mulai sebelum penyembelihan hingga pascapemotongan hewan kurban.
Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng, Gede Melandrat, Rabu (27/5), mengatakan pihaknya menerjunkan sebanyak 27 dokter hewan dan 10 staf pendamping untuk melakukan pemeriksaan serta pengawasan hewan kurban di seluruh wilayah Kabupaten Buleleng.
Menurutnya, pemeriksaan kesehatan hewan kurban sebelumnya telah dilakukan melalui pemeriksaan antemortem atau pemeriksaan sebelum hari raya. Selanjutnya, mulai Rabu (27/5) hingga 29 Mei 2026 dilaksanakan pemeriksaan post mortem di seluruh titik pemotongan hewan kurban.
“Pemeriksaan post mortem dilakukan untuk memastikan kondisi daging dan organ dalam hewan setelah disembelih benar-benar sehat dan layak dikonsumsi,” ujarnya.
Data Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng mencatat terdapat 57 titik pemotongan hewan kurban dengan jumlah hewan mencapai 177 ekor sapi dan 128 ekor kambing. Seluruh aktivitas pemotongan hewan kurban terpusat di masjid-masjid.
Melandrat menjelaskan, pemerintah hadir langsung ke lokasi pemotongan sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan keagamaan masyarakat sekaligus memastikan kesehatan hewan kurban tetap terjaga.
“Pemerintah hadir jemput bola ke lokasi umat melaksanakan pemotongan kurban. Kami mendampingi dan memastikan kesehatan hewan secara fisik maupun kondisi dalam tubuhnya benar-benar baik sehingga layak dimanfaatkan sebagai hewan kurban dan aman dikonsumsi masyarakat,” jelasnya.
Pengawasan tersebut juga dilakukan sesuai permintaan Kementerian Agama untuk memastikan pelaksanaan kurban berjalan aman dari sisi kesehatan hewan dan keamanan pangan.
Meski sebagian besar hewan telah lolos pemeriksaan awal, pihaknya tetap melakukan pengawasan intensif selama tiga hari pelaksanaan pemotongan. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya kondisi yang meragukan setelah hewan berada di lokasi pemotongan.
“Sejak awal hewan yang dijadikan kurban sudah diperiksa dokter hewan kami. Jadi kemungkinan terjadi gangguan kesehatan setelah dibawa ke lokasi pemotongan sangat kecil,” tandasnya. (Yuda/balipost)










