
BANGLI, BALIPOST.com – Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli memastikan ketersediaan babi menjelang Hari Raya Galungan dalam kondisi aman dan mencukupi bagi kebutuhan masyarakat. Guna memastikan daging babi yang akan dikonsumsi masyarakat, sehat dan layak konsumsi, Dinas PKP akan menurunkan petugas untuk melakukan pemeriksaan.
Kepala Dinas PKP Bangli I Wayan Sarma mengatakan populasi babi siap potong saat ini cukup banyak dan tersebar merata di empat kecamatan, dengan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Susut.
“Saya jamin kebutuhan babi untuk Galungan nanti akan tercukupi karena populasi yang sudah layak potong cukup banyak,” ujar Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma, Selasa (9/6).
Terkait harga, Sarma menyebutkan saat ini harga babi hidup masih tergolong stabil, yakni berada di kisaran Rp 40.000 hingga Rp 42.000 per kilogram.
Di tengah banyaknya kasus kematian babi diduga karena penyakit, Dinas PKP mengimbau para peternak untuk selalu menjaga kesehatan hewan peliharaan mereka. Diantaranya dengan melakukan biosekuriti ketat, memberikan pakan berkualitas dan mengutamakan membeli bibit ternak dari lingkungan sekitar yang riwayat kesehatannya jelas. “Kalau ngambil d sekitar kita kan tahu riwayatnya,” ujarnya.
Meski tidak mengeluarkan Surat Edaran (SE) khusus, Sarma meyakini para peternak di Bangli sudah paham terhadap langkah-langkah pencegahan penyakit pada ternak.
Sarma juga mengatakan bahwa untuk memastikan daging yang dikonsumsi masyarakat aman, pihaknya akan menerjunkan sejumlah petugas untuk melakukan pemeriksaan ante mortem pada babi yang akan dipotong. Pemeriksaan itu akan dijadwalkan mulai berjalan pada hari Minggu, diikuti dengan pemeriksaan post mortem. Mengingat keterbatasan personel, petugas tidak dapat mendatangi seluruh lokasi pemotongan satu per satu. Oleh karena itu, masyarakat diimbau aktif dan hanya memotong ternak yang benar-benar sehat.
Masyarakat Bangli juga diingatkan untuk selalu bijak dalam mengolah daging babi saat Galungan guna menghindari risiko penularan penyakit.
“Kami berharap masyarakat memperhatikan kesehatan ternak dan proses memasaknya. Kurangi konsumsi daging mentah. Sebaiknya daging dimasak pada suhu tertentu sehingga mengurangi risiko penularan penyakit,” pungkasnya. (Dayu Swasrina/balipost)










