
MANGUPURA, BALIPOST.com – Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kabupaten Badung bergerak cepat menindaklanjuti dugaan penyebaran Virus African Swine Fever (ASF) yang memicu kematian puluhan ekor babi di wilayah Canggu, Kuta Utara. Hasil verifikasi awal mengarah kuat pada serangan virus mematikan tersebut.
Kepala Disperpa Kabupaten Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, menegaskan pihaknya langsung turun ke lapangan begitu menerima informasi, meski belum ada laporan resmi dari masyarakat. Tim Kesehatan Hewan (Keswan) diterjunkan pada Jumat (22/5) untuk melakukan pengecekan langsung.
“Berkenaan babi mati di Kayu Tulang, Canggu memang belum ada laporan resmi ke kami (Disperpa -red). Namun, tadi pagi (Jumat 22/5) kami telah menurunkan tim Keswan untuk melakukan verifikasi ke lokasi,” ungkapnya.
Hasil penelusuran di peternakan milik I Ketut Widanta di Banjar Kayu Tulang, Desa Canggu, menunjukkan terdapat 60 ekor babi penggemukan yang sebelumnya dipelihara dalam kondisi sehat. Bibit babi diketahui berasal dari Buduk, Tumbak Bayuh, dan Abiansemal. “Babi dipelihara dengan sistem kandang koloni, yakni semua babi dalam satu kandang dan pakan yang diberikan berupa swill feeding (makanan limbah hotel restaurant),” katanya.
Kasus ini bermula pada awal April, ketika dua ekor babi menunjukkan gejala klinis seperti tidak nafsu makan, lemas, kulit kemerahan, dan tidak mampu berdiri. Meski sempat ditangani dokter hewan, kondisi justru menyebar dan diikuti kematian babi lainnya.
Peternak kemudian menjual sekitar 30 ekor babi yang masih sehat, sementara 30 ekor lainnya yang mati telah dikubur. Saat ini, kandang dilaporkan sudah kosong.
“Hasil verifikasi tim penyakit yang menyerang babi mengarah ke Penyakit ASF. Sebab, penyakit ini tidak bisa diobati, dengan angka kesakitan 100 persen dan kematian 100 persen. Namun bisa dicegah dengan cara biosekurity dan sanitasi kandang yang baik, sehingga tidak ada penyebaran virus ke kandang,” jelasnya seraya menambahkan pihaknya telah memberikan desinfektan untuk mensucihamakan kandang dari virus sebelum digunakan kembali.
Seperti diberitakan sebelumnya, kematian babi secara mendadak ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan peternak. Selain berdampak pada kesehatan ternak, kasus ini juga memicu kerugian ekonomi yang tidak sedikit, terutama bagi peternak yang menggantungkan hidup dari usaha ternak babi. Pemerintah mengimbau peternak meningkatkan biosekuriti, menjaga kebersihan kandang, serta segera melapor jika menemukan gejala serupa untuk mencegah penyebaran lebih luas. (Parwata/balipost)









