
DENPASAR, BALIPOST.com – Pulau Bali kembali mencuri perhatian dunia. Untuk pertama kalinya, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah seri pembuka ajang ekstrem paling bergengsi, Red Bull Cliff Diving World Series 2026, yang berlangsung pada 20–23 Mei 2026.
Dua lokasi ikonik Bali, yakni Air Terjun Kroya di Buleleng dan Broken Beach, Nusa Penida. Air Terjun Kroya Buleleng awalnya dipilih menjadi venue kompetisi ronde 1 dan 2, namun akibat cuaca hujan yang memengaruhi kedalaman air di air Terjun Kroya, ronde pembuka akhirnya dipindahkan ke Broken Beach, Nusa Penida demi keselamatan atlet.
Pihak penyelenggara, Orlando Duque, Rabu (20/5), menjelaskan ada sebanyak 24 atlet elite dunia dipastikan tampil, termasuk juara dunia tujuh kali Rhiannan Iffland, legenda cliff diving Gary Hunt, hingga pemegang rekor skor tertinggi kompetisi Constantin Popovici.
Para atlet akan melompat dari ketinggian 27 meter untuk kategori pria dan 21 meter untuk kategori wanita dengan kecepatan jatuh mencapai 85 kilometer per jam menuju perairan Samudera Hindia. “Yang spesial dari ajang ini adalah olahraga ekstrem yang benar-benar menguji adrenalin dan diikuti atlet-atlet top dunia,” ujar Orlando di Sanur, Denpasar saat pelaksanaan konferensi pers.
Ia menjelaskan, sebenarnya Bali sudah direncanakan menjadi tuan rumah sejak 2020. Namun pandemi Covid-19 membuat agenda tersebut tertunda selama beberapa tahun.
Menurut Orlando, Bali dipilih karena memiliki kombinasi keindahan alam dan daya tarik wisata kelas dunia yang sangat cocok dengan karakter Red Bull Cliff Diving World Series.
“Bali merupakan tempat liburan yang indah dan sangat cocok untuk menghadirkan pengalaman Cliff Diving terbaik di dunia,” katanya.
Meski ronde di Air Terjun Kroya dibatalkan, venue tersebut tetap mendapat perhatian khusus karena dinilai unik dan langka di dunia. “Lokasi Kroya Buleleng memberikan pengalaman pertama kali terjun dari dahan pohon. Bahkan di dunia belum ada lokasi seperti ini,” ungkapnya.
Sementara itu, penanggung jawab kegiatan Komandan Pusat Teritorial Angkatan Laut (Danpusteral) Laksamana Pertama TNI Albertus Agung Priyo Suseno, mengatakan pengamanan dilakukan karena lokasi kegiatan berada di kawasan laut terbuka yang langsung berhadapan dengan Samudera Hindia dengan arus dan gelombang yang cukup kuat.
“Kalau di samudera arusnya kuat dan gelombangnya besar sehingga faktor keselamatan sangat diperhatikan,” jelas Albertus.
Untuk mendukung keamanan pertandingan, pihak penyelenggara telah menyiapkan tim penyelam, pasukan katak, hingga armada evakuasi laut yang siap digunakan sewaktu-waktu. “Bila sewaktu-waktu dibutuhkan, kami sudah siap untuk faktor evakuasi,” tambahnya.
Di sisi lain, juri profesional senior lompat indah, Pranarta Subandriyo Arumbowo, menyebut cliff diving merupakan cabang olahraga profesional dengan tingkat risiko tinggi karena dipengaruhi banyak faktor, mulai dari cuaca, angin, hingga karakter venue.
“Di cliff diving ini banyak faktor yang mempengaruhi selain cuaca, ada faktor angin dan ketinggian. Bahayanya juga sangat tinggi,” ujar Frans.
Ia menambahkan, teknik pijakan menjadi hal penting dalam olahraga ini. “Dalam cliff diving, pijakan harus menggunakan kaki karena jauh lebih kuat dibanding tangan,” katanya. (Suka Adnyana/balipost)










