Melati Wijsen sebagai changemaker dan pembicara di World Book Day 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali mengusung tema "Bali Local Vibes, Global Tribe: Rooted in Local Harmony, Reaching Global Impact". (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di hadapan ratusan peserta World Book Day 2026 di di Gedung Ksirarnawa, Rabu (13/5), suara Melati Wijsen terdengar tenang, namun penuh keyakinan. Aktivis muda (25 tahun) yang besar di Bali itu mengajak generasi muda untuk berani bermimpi besar dan memulai perubahan dari langkah sederhana.

“Kita sudah tahu Bali pulau yang indah sekali. Tetapi juga ada banyak sampah plastik. Pertanyaannya, Bali mana yang mau kita pilih? Bali yang indah atau Bali yang penuh sampah plastik?” ujar Melati sebagai changemaker dan pembicara di World Book Day 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali mengusung tema “Bali Local Vibes, Global Tribe: Rooted in Local Harmony, Reaching Global Impact”.

Pertanyaan sederhana itu menjadi pengingat bahwa persoalan sampah plastik masih menjadi ancaman nyata bagi Pulau Dewata. Namun bagi Melati, perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan justru bisa lahir dari kegelisahan seorang anak kecil yang peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Baca juga:  Tunjukkan Cinta Tanah Air di Era Modern, 7 Cara Gaya Hidup Milenial Bisa Diterapkan

Ia pun bercerita pada 2013, saat usianya baru 12 tahun, Melati bersama sang adik, Isabel Wijsen, yang kala itu berusia 10 tahun, mendirikan gerakan Bye Bye Plastic Bags. Berawal dari keresahan melihat sampah plastik yang berserakan di Bali, keduanya memilih bergerak dibanding hanya mengeluh.

Dua remaja itu memulai kampanye sederhana untuk mengurangi penggunaan kantong plastik di Bali. Mereka berkeliling, berbicara kepada masyarakat, hingga menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan kepada pemerintah.

“Waktu umur 12 dan 10 tahun itu simpel. Kami tidak punya budget, tapi punya satu ide dan mimpi besar. Bali harus bebas dari kantong plastik,” katanya.

Mimpi itu awalnya terdengar mustahil. Namun Melati percaya perubahan selalu dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama. Ia dan Isabel bahkan terinspirasi dari puluhan negara di dunia yang telah melarang penggunaan kantong plastik.

Baca juga:  Libur Sekolah Batal Diundur ke Januari

“Kami tahu sudah ada lebih dari 40 negara melarang kantong plastik. Jadi kami berpikir, kalau mereka bisa, kenapa Bali tidak bisa?” ujarnya.

Gerakan Bye Bye Plastic Bags kemudian berkembang menjadi gerakan global anak muda peduli lingkungan. Bye Bye Plastic Bags tidak hanya mengkampanyekan pengurangan plastik, tetapi juga meningkatkan kesadaran tentang dampak plastik terhadap lingkungan, hewan, dan kesehatan manusia.

Perjalanan Melati sebagai changemaker tidak berhenti di sana. Aktivis keturunan Indonesia-Belanda itu kemudian mendirikan Youthtopia, sebuah platform komunitas yang mempertemukan para pembuat perubahan muda dari berbagai negara untuk mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB.

Melalui Youthtopia, Melati ingin generasi muda saling belajar dan mempercepat perubahan sosial di komunitas masing-masing.

Baca juga:  Made Mahayastra Dilantik Jadi Bupati Gianyar

Dalam World Book Day 2026, Melati juga memperkenalkan bukunya berjudul “Change Starts Now”. Buku tersebut menjadi refleksi perjalanan hidupnya sebagai aktivis lingkungan sekaligus ajakan kepada generasi muda untuk tidak takut memulai aksi nyata.

Menurutnya, perubahan tidak cukup hanya melalui kata-kata inspiratif, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

“Kita tidak hanya butuh kata-kata inspiratif, tetapi bagaimana caranya bergerak. Dan untuk mengubah budaya itu, kita perlu banyak orang ikut bergerak,” katanya.

Melati menilai generasi muda memiliki kekuatan besar untuk menciptakan perubahan, terutama melalui pendidikan dan literasi. Karena itu, ia mengajak anak-anak muda berani memiliki mimpi besar dan mulai bertindak dari diri sendiri.

“Yang paling penting, mulai dari diri sendiri. Setelah itu baru kita bisa mengajak orang lain ikut bergerak,” ujarnya. (Suardika/balipost)

BAGIKAN