Aktivitas di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kesiman Kertalangu Kota Denpasar. Untuk mengoptimalkan pengolahan sampah di TPST ini Pemerintah Kota Denpasar berencana menambah mesin dengan kapasitas 100 ton. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Penambahan mesin pengolahan sampah rencananya dilakukan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kesiman Kertalangu. Namun rencana penambahan mesin kapasitas 100 ton tersebut akan direalisasikan setelah tahap uji coba TPST Tahura I dan II usai.

Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa saat diwawancarai, Senin (4/5) mengatakan, saat ini TPST Kesiman Kertalangu baru mampu mengolah sampah sekitar 60 hingga 80 ton. Pihaknya akan menambah mesin dengan kapasitas 100 ton.

Baca juga:  TPS Underground Kereneng Diuji Coba

“Ditambah, kalau tidak salah sampai 100 ton. Untuk target, kami tunggu uji coba di Tahura 1 dan 2. Uji coba keberhasilan,” paparnya.

Saat ini, pihaknya mengaku belum berani memaksimalkan tonase di TPST Kesiman Kertalangu. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan sampah yang masuk dan dampak yang ditimbulkan. Sehingga akan dapat memperkecil ruang-ruang penolakan dari masyarakat.

Terkait penambahan mesin tersebut, Pemkot Denpasar pun telah melakukan sosialisasi. Sosialisasi juga dibantu oleh Desa Adat Kesiman, guna mengantisipasi adanya penolakan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.

Baca juga:  Krama Desa Adat Minta Pengelolaan TPST Kesiman Kertalangu Tak Menimbulkan Bau

Bendesa Adat Kesiman, Jro I Ketut Wisna mengatakan, pihaknya sudah ikut mensosialisasikan bagaimana aktivitas pengolahan sampah tersebut ke warga sekitar. Sosialisasi dilakukan ke masing-masing banjar. Selain itu, desa adat diakuinya juga akan siap membantu pengamanan seperti halnya menerjukan pecalang jika diperlukan.

“Dari desa adat, apa yang memang diperlukan pemerintah khususnya Kota Denpasar, kami senantiasa selalu siap untuk membantu kondisi di lapangan,” paparnya.

Baca juga:  Pura Petilan Kesiman Gelar Pangerebongan, Kober Pertama Tedun

Terkait penolakan yang pernah terjadi, ia menyebut sistem saat itu memang bermasalah. Dan saat ini, mesin yang digunakan adalah mesin baru. Ia menyebut jika sosialisasi untuk warga sekitar juga langsung dilakukan oleh Wali Kota Denpasar bersama Ketua DPRD. Secara prinsif menurutnya, 32 banjar yang ada di wewidangan Desa Adat Kesiman sudah memahami alur pengolahan sampah saat ini. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN