
AMLAPURA, BALIPOST.com – Peningkatan volume sampah di kawasan Pura Besakih selama pelaksanaan Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) pada 2026 mencapai 10 ton per hari. Sampah tersebut dibawa ke tempat pengolahan sampah reduce, reuse, dan recycle (TPS 3R) yang berlokasi di Banjar Palak, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
Di tengah keberadaanya sebagai lokasi untuk menampung sampah dari pelaksanaan IBTK Pura Agung Besakih yang berlangsung dari 2 sampai 21 April 2026, TPS 3R ini ternyata sudah tidak beroperasi. Dari pengamatan ke lokasi, dua mesin pengolah sampah yang berada di sana tidak lagi dioperasikan. Pekerja juga tak tampak di areal tersebut.
Sejumlah karung berisi botol dan kemasan plastik bertumpuk di sebuah sudut ruangan. Mobil pikap yang kemungkinan digunakan sebagai sarana pengangkutan sampah juga tampak terparkir. Terdapat pula beberapa kursi plastik yang kemungkinan digunakan pekerja saat melakukan pengolahan sampah. Semuanya tampak berdebu karena tak lagi digunakan.
Tak aktifnya TPS 3R ini dikuatkan data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karangasem yang menyatakan telah berhenti beroperasi. Data pada 2025 menyatakan TPS 3R Besakih termasuk salah satu dari 6 TPS 3R di Karangasem yang tak aktif.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup saat itu, I Nyoman Tari (kini sebagai Staf Ahli Bupati Bidang Sumber Daya Manusia) mengatakan, enam TPS 3R yang tidak aktif atau berfungsi, yaitu TPS 3R Palak Besakih, Seraya, TPS 3R Culik, TPS 3R Bungaya, TPS 3R Jeruk manis, dan TPS 3R Penaban. Ia pun mengaku tidak tahu alasan TPS 3R tersebut tak tak lagi beroperasi.
Sementara itu, di sebelah utara bangunan TPS 3R ini, terdapat tumpukan sampah yang belum diolah. Di lokasi itu lah, sampah yang dihasilkan selama IBTK di Pura Agung Besakih dibawa.
Dari pengakuan warga sekitar, lokasi TPS 3R ini sudah tidak layak lagi. Selain, berada di kawasan pemukiman warga, lokasinya merupakan jalur melasti pralingga Ida Bhatara masucian ke sumber mata air Toya Sah saat ritual IBTK digelar.
Dikonfirmasi, Ketua Panitia IBTK Pura Agung Besakih sekaligus Bandesa Adat Besakih, Jro Mangku Widiartha, pada Rabu (22/4) mengungkapkan, keberadaan TPS 3R yang ada saat ini memang tidak layak. “Kami berharap pemerintah bisa menyiapkan lokasi lain untuk pengolahan sampah tersebut, karena di sana sudah tidak layak lagi. Terkait itu, kami akan berkoordinasi dengan Dinas DLH Karangasem, dan selanjutnya DLH Karangasem berkoordinasi ke DLH Provinsi Bali,” katanya.
Ia menyatakan TPS 3R ini sudah beroperasi sejak tahun 2006 silam. Namun, ia juga tidak mengetahui pasti kapan TPS 3R ini berhenti beroperasi.
Terkait sampah dari pelaksanaan IBTK, ia mengatakan belum bisa diolah secara maksimal karena terkendala sumber daya manusia (SDM). “Sampah yang datang dari berbagi unsur belum bisa diolah. Setelah karya (upacara, red) nanti akan dikerjasamakan dengan badan pengelola terkait pengelolaan sampah tersebut, mulai dari organik, nonorganik, maupun residu,” imbuhnya.
Salah seorang warga yang ditemui di sekitar lokasi itu mengaku cukup banyak memperoleh botol dan kardus untuk dijual kembali.
“Saya memilah botol dan kardus. Kalau sampah yang lainnya belum diolah,” ucap warga yang enggan disebut namanya itu.
Ia menjelaskan, botol dan kardus yang berhasil dipilah sudah cukup banyak, jumlahnya mencapai puluhan karung. “Satu karung harganya hanya Rp3 ribu. Kalau kardus lebih murah lagi hanya 1.500 rupiah,” katamya.
Ia pun menilai TPS 3R ini sudah tidak layak. Terlebih, jika sampah secara terus menerus dibawa ke lokasi itu tanpa diolah. Cepat atau lambat pasti akan penuh. “Harus disiapkan lokasi lain yang lebih luas dan jauh dari pemukiman penduduk,” harapnya. (Eka Parananda/balipost)










