Seniman Tabanan mementaskan Joged Bumbung di PKB 2025, Kamis (10/7). (BP/eka)

SINGASANA, BALIPOST.com – Kabupaten Tabanan bersiap memberikan penampilan maksimal pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 dengan menurunkan 14 materi unggulan. Seluruh garapan kini dalam tahap pematangan, melibatkan sekaa dan sanggar seni sebagai duta daerah.

Kabid Kesenian Dinas Kebudayaan Tabanan, I Wayan Juana, Rabu (15/4), mengatakan, seluruh materi masih dalam proses penggarapan dan pendalaman. “Total ada 14 materi yang dikirim. Saat ini masih tahap penajaman Utsawa dan Wimbakara bersama sekaa dan sanggar,” ujarnya.

Ke-14 materi tersebut yakni pawai (peed aya), gong kebyar wanita, anak-anak, dan dewasa, peragaan busana PKK, joged tradisi, ngelawang, bleganjur remaja, barong ket, taman penasar, angklung kebyar, pelegongan, hingga wimbakara seperti lomba mewarnai dan mesatua.

Baca juga:  Harga Gabah Di Atas HPP, Bulog Tak Mampu Serap Optimal Hasil Panen

Dari seluruh garapan, pawai diproyeksikan menjadi penampilan paling menyedot perhatian. Mengusung tema Atma Kertih (Jiwa Sidha Parisudha), pawai Duta Tabanan akan melibatkan ratusan seniman dengan konsep tiga barisan utama.

Dimana untuk barisan pertama menampilkan identitas daerah, mulai dari papan nama kabupaten, Jegeg Bagus berbusana khas Tabanan, hingga iringan gong kebyar di atas mobil hias berlogo Lumbung. Dilanjutkan, pada barisan kedua menghadirkan penampilan kolosal barong bangkung yang melibatkan 26 sekaa, dilengkapi tabuh bebonangan serta kemunculan barong banteng, barong macan, dan okokan. Dan barisan ketiga mengusung garapan tematik Kunti Sraya, menampilkan dramatari Barong dan Rangda, ogoh-ogoh juara tingkat kabupaten, serta iringan bleganjur yang dinamis. “Inilah konsep pawai yang sedang disiapkan. Semua masih berproses, tetapi sudah dirancang secara matang,” tegas Juana.

Baca juga:  Telkomsel Dukung PKB XLV, Pastikan Kehandalan Jaringan

Selain pawai, penguatan seni tradisi, khususnya joged tradisi juga disiapkan maksimal. Garapan ini akan dibawakan Sekaa Joged Catur Buana Sari, Desa Bengkel Sari, Kecamatan Selemadeg Barat, dengan menitikberatkan pada keaslian pakem.

Menurut Juana, penampilan joged yang disiapkan tidak bersifat sakral, namun tetap menjaga nilai tradisi. Langkah ini sekaligus menjadi upaya menekan distorsi kesenian, seperti unsur hiburan berlebihan yang kerap mencoreng citra joged. “Yang utama adalah mengembalikan identitas joged tradisional sesuai pakem,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

Baca juga:  Ikuti PKB, Segini Anggaran Bangli
BAGIKAN