
SINGASANA, BALIPOST.com – Tingginya minat peternak terhadap layanan inseminasi buatan (IB) babi di Kabupaten Tabanan belum sepenuhnya diimbangi dengan ketersediaan stok sperma. Kondisi ini membuat sebagian permintaan belum dapat terpenuhi secara optimal.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tabanan, Gede Parta Ariana, Senin (6/4), mengungkapkan kebutuhan layanan IB babi di Tabanan mencapai sekitar 200 akseptor per bulan. Bahkan, satu petugas di lapangan bisa melayani hingga 100 akseptor. “Permintaan masyarakat sangat tinggi. Rata-rata mencapai 200 akseptor per bulan,” ujarnya.
Namun, keterbatasan produksi sperma di UPTD Balai Inseminasi Buatan Daerah (BIBD) Provinsi Bali menjadi kendala utama. Distribusi yang belum optimal menyebabkan tidak semua permintaan peternak dapat terlayani.
Akibatnya, sebagian peternak terpaksa beralih ke metode kawin manual menggunakan pejantan. “Kalau tidak kebagian layanan IB, biasanya langsung beralih ke kawin manual,” jelasnya.
Tingginya minat terhadap IB tidak terlepas dari sejumlah keunggulan yang ditawarkan. Selain mampu meningkatkan kualitas ternak, tingkat keberhasilan metode ini juga cukup tinggi, yakni mencapai sekitar 70 persen.
“Peternak sudah memahami manfaatnya, sehingga lebih memilih IB,” imbuh Parta Ariana.
Meski demikian, keberhasilan IB tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sperma. Faktor lain seperti kesiapan petugas, kualitas sperma, serta ketepatan waktu birahi (estrus) induk babi turut memengaruhi hasil.
Di Tabanan, permintaan IB babi paling tinggi tercatat di Kecamatan Baturiti, Penebel, dan Marga yang juga merupakan kantong utama populasi ternak babi. Data menunjukkan populasi babi di Tabanan hingga akhir 2024 hingga awal 2025 berada di kisaran 29.000 hingga 36.000 ekor, dengan Kecamatan Baturiti sebagai penyumbang terbesar sekitar 9.500 ekor.(Puspawati/balipost)










