
SINGARAJA, BALIPOST.com – Pascapenghentian sementara izin operasional, sebanyak 16 anak di Panti Asuhan GS di Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Buleleng memilih kembali ke keluarga mereka. Relokasi dilakukan pada Minggu (5/4), dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk orangtua dan keluarga anak.
Dari total 30 anak yang sebelumnya tercatat di panti, delapan anak saat ini berada di rumah aman, empat anak telah direlokasi ke panti asuhan di Desa Kerobokan, Kecamatan Sawan, sementara dua anak lainnya masih bertahan di panti lama.
Kepala Dinas Sosial dan PPA Buleleng, Putu Kariaman Putra menjelaskan bahwa keputusan 16 anak untuk kembali ke keluarga dilatarbelakangi berbagai alasan. Di antaranya keinginan orang tua untuk mengasuh langsung, adanya kegiatan keagamaan, hingga pertimbangan keluarga besar.
“Dari total 30 anak, delapan berada di rumah aman, 16 kembali ke orang tua, dua masih di panti lama, dan empat kami relokasi ke Panti Asuhan Naraya Seva,” jelasnya.
Dua anak yang masih berada di panti asuhan GS diketahui masih duduk di bangku SD dan SMP. Meski orangtua telah menyatakan kesiapan, keduanya disebut masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi sebelum akhirnya direlokasi.
Sementara itu, Dinas Sosial dan PPA Buleleng memastikan tetap melakukan pemantauan terhadap anak-anak yang telah kembali ke keluarga. Jika di kemudian hari diperlukan, pihaknya siap memfasilitasi proses lanjutan, termasuk pemindahan sekolah.
“Kami wajib mengikuti perkembangan mereka. Jika mereka ingin kembali, kami siap membantu,” tambah Kariaman.
Untuk delapan anak yang kini berada di rumah aman, kondisinya dilaporkan semakin membaik. Proses pendalaman masih berlangsung sebelum penanganan lanjutan ditetapkan.
Di sisi lain, pengelola Panti Asuhan Naraya Seva, Luh Mairi Arjani menyatakan kesiapan pihaknya menampung anak-anak relokasi. Saat ini, panti masih memiliki kapasitas untuk sekitar 20 anak tambahan.
“Kami akan melakukan masa orientasi dan adaptasi agar anak-anak merasa nyaman. Penempatan kamar juga disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” ujarnya. (Nyoman Yudha/balipost)










