Foto Dokumen - Seorang wanita berbelanja di supermarket di Distrik Congtai, Handan, Provinsi Hebei, China utara, 9 Juli 2022. (BP/Ant)

ISTANBUL, BALIPOST.com – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), Jumat, mengatakan harga pangan global naik 2,4 persen pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan itu didorong oleh melonjaknya biaya energi akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Kenaikan tersebut menandai peningkatan bulanan kedua berturut-turut, dengan harga naik terjadi di semua kelompok komoditas utama, termasuk sereal, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula.

Indeks Harga Pangan FAO tercatat naik 1,2 poin, atau satu persen, dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga:  Atasi Kendala Klasik, UKM Jatim Terapkan Jatimnomics

Sementara itu, Indeks Harga Sereal naik 1,5 persen menjadi 110,4 secara bulanan dan meningkat 0,6 persen secara tahunan.

Lalu, indeks Harga Minyak Nabati rata-rata mencapai 183,1 poin pada Maret, atau naik 5,1 persen dari Februari dan mencatat kenaikan bulanan ketiga berturut-turut, dengan kenaikan tahunan sebesar 13,2 persen.

“Harga minyak sawit internasional mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 dan bergerak ke level premium di atas harga minyak kedelai. Ini utamanya mencerminkan efek limpahan dari lonjakan tajam harga minyak mentah,” kata FAO dilansir dari Kantor Berita Antara.

Baca juga:  Bazaar Pangan Jelang Hari Saraswati Diserbu Warga

Tak hanya itu, Indeks Harga Daging rata-rata mencapai 127,7 poin atau naik satu persen dibandingkan Februari dan delapan persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Indeks Harga Produk Susu naik 1,2 persen secara bulanan menjadi 120,9 poin, namun masih 18,7 persen lebih rendah dibandingkan Maret 2025.

Lebih lanjut, FAO mengatakan kenaikan ini terutama didorong oleh harga minyak mentah yang lebih tinggi, yang meningkatkan ekspektasi bahwa Brasil—eksportir gula terbesar dunia—akan mengalokasikan lebih banyak tebu untuk produksi etanol.

Baca juga:  Hingga Juni, Inflasi Kumulatif Bali Lampaui Rentang Target Nasional

“Tekanan tambahan pada harga gula juga berasal dari kekhawatiran atas dampak eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap arus perdagangan gula,” tambah FAO. (kmb/balipost)

BAGIKAN