Ogoh-ogoh karya STT Bhakti Dharma, Banjar Kangin, Desa Adat Pecatu dalam Badung Caka Festival 2026 di Puspem Badung. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Kreativitas generasi muda Bali kembali bersinar dalam ajang Badung Caka Fest 2026. Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma Banjar Kangin, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, berhasil meraih Juara III melalui karya bertajuk Kala Bendu dengan perolehan nilai 855.00.

Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi ST Bakti Dharma yang tampil memukau dengan konsep garapan yang sarat makna filosofis. Karya Kala Bendu tidak hanya menghadirkan visual artistik yang kuat, tetapi juga mengangkat pesan mendalam tentang keseimbangan kehidupan manusia dengan alam dan Tuhan.

Ketua Sekaa Teruna Bakti Dharma Banjar Adat Kangin, Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan, I Kadek Yossi Wicaksana Putra, menjelaskan bahwa karya tersebut lahir dari refleksi terhadap kondisi kehidupan manusia saat ini yang semakin menjauh dari nilai-nilai keseimbangan.

Baca juga:  Diguyur Hujan, Pembatas SDN 2 Mayong Rubuh dan Penyengker Pura Bale Agung Longsor

Ia menyampaikan, dalam kehidupan masyarakat Bali, keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana) merupakan landasan keharmonisan hidup. Namun seiring berjalannya waktu manusia kian menjauh dari kesadaran akan pertiwinya. Alam dieksploitasi tanpa pertimbangan, hutan dilukai, air dicemari, dan tanah kehilangan kesuciannya. Waktu berjalan cepat, namun manusia lupa memberi ruang untuk merenung.

Demi kepentingan sesaat, nilai kebenaran dikaburkan dan dharma dikorbankan. Ketika pertiwi tak lagi diperlakukan sebagai ibu kehidupan, keseimbangan pun runtuh, melahirkan kegelisahan dan penderitaan yang tak kasat mata.

Baca juga:  Kerugian Akibat Bencana Alam di Badung Capai Rp 4,1 Miliar

Lebih lanjut ia menuturkan, fenomena ini bukan sekadar persoalan lahiriah, melainkan cerminan kebutaan batin manusia. Hilangnya kesadaran akan batas dan tanggung jawab menjadikan alam murka, dan hukum kosmis pun bekerja. Dari kondisi inilah Kala Bendu hadir bukan semata sosok, melainkan wujud dari kemerosotan kesadaran manusia terhadap waktu, ibu pertiwi dan tak lagi mampu membedakan kebenaran serta ketidakadilan.

Dalam konsep mitologisnya, Kala Bendu digambarkan sebagai simbol peringatan spiritual bagi manusia. Ia menambahkan, Kala Bendu berasal dari kata Kala yang bermakna waktu dan Bendu sebagai unsur pertiwi. Ia menjelma ketika manusia melupakan makna waktu, memutus hubungan dengan alam, dan menyimpang dari dharma. Secara mitologis, Kala Bendu lahir pada pertemuan matahari, bulan, dan bintang (Tri Sandhya) yang ditugaskan untuk memakan jiwa-jiwa manusia yang melanggar sila krama dan dharma sasana.

Baca juga:  Pascarobohnya Pura Prajapati Akibat Longsor, Guru Piduka Digelar

Melalui karya ini, para pemuda ST Bakti Dharma ingin mengajak masyarakat kembali merenungi nilai-nilai kehidupan. Ia menegaskan, ketika manusia mampu memahami pertiwi sebagai pertiwimba, yakni pertimbangan suci dalam setiap tindakan, maka kebutaan batin akan sirna. Dari kesadaran itulah manusia dapat melepaskan diri dari belenggu Kala Bendu dan menata kembali keharmonisan hidup. Kala Bendu pun tidak lagi menjadi ancaman, melainkan cermin pengingat agar manusia senantiasa mulat sarira dan berjalan dalam dharma. (Parwata/balipost)

BAGIKAN