Ogoh-ogoh karya STT Tunas Remaja, Banjar Umahanyar, Desa Adat Penarungan dalam Badung Caka Festival 2026 di Puspem Badung. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Ogoh-ogoh karya Sekaa Teruna (ST) Tunas Remaja, Banjar Umahanyar, Desa Adat Penarungan, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, berhasil meraih Juara I dalam lomba ogoh-ogoh Badung Caka Fest 2026. Karya bertema “Maguru Satua” tersebut meraih skor tertinggi, yakni 914.00.

Keberhasilan ini menjadi kebanggaan bagi generasi muda di Banjar Umahanyar. Melalui kreativitas seni ogoh-ogoh, mereka tidak hanya menampilkan karya visual yang megah, tetapi juga menghadirkan pesan moral dan filosofi Hindu Bali yang mendalam.

Tema Maguru Satua mengangkat kisah dari cerita klasik Tantri tentang seorang raja bernama Sri Maharaja Aiswaryadala di Kerajaan Patali. Raja tersebut dikenal memiliki kepuasan hubungan seksual yang berlebihan. Ia bahkan memerintahkan Patih Bandeswara untuk menghaturkan seorang gadis setiap malam sebagai pemuas nafsunya.

Baca juga:  Penilaian Ogoh-ogoh Kasanga Festival Denpasar Rampung, Cek Peraih Nilai Tertinggi

Namun lambat laun, gadis-gadis di wilayah Kerajaan Patali habis dipersembahkan. Yang tersisa hanyalah Ni Diah Tantri, putri Patih Bandeswara. Menyadari kesulitan yang dihadapi ayahnya, Ni Diah Tantri akhirnya bersedia menyerahkan dirinya kepada Sang Raja. Keputusan itu dilandasi ketulusan tekad untuk menyadarkan Sang Raja dari kegelapan nafsu duniawi demi membebaskan rakyat dari penderitaan.

Singkat cerita, Ni Diah Tantri telah berada di peraduan bersama Sang Raja. Sebelum Raja sempat menyentuhnya, Ni Diah Tantri mulai bercerita tentang kehidupan binatang yang sarat ajaran moral dan politik. Cerita tersebut secara halus mengkritik perilaku Sang Raja.

Baca juga:  Kasanga Fest 2026: 'Ngogo Napak Sithi' dari ST. Swadharmita Angkat Sakralnya Prosesi Tiga Bulanan

Melalui kisah-kisah itu, suasana istana seolah berubah menjadi hutan belantara. Kesadaran Sang Raja perlahan dibalik melalui amuter tutur pinahayu. Nafsu Sang Raja diumpamakan melalui karakter binatang, sehingga tanpa disadari hati nurani Sang Raja tersentuh.

Kesadaran tersebut membuat nafsu berubah menjadi emosi yang kemudian melahirkan cinta kasih. Pola pikir Sang Raja terhadap perempuan pun berubah, dari yang semula memandang perempuan sebagai “pemuas nafsu”, “tak berdaya”, dan “lemah”, menjadi “ratu”, “pujaan”, serta “kehormatan”. Pada akhirnya, Raja Aiswaryadala mempersunting Ni Diah Tantri karena kebijaksanaannya yang mampu menyadarkan sang raja dari belenggu ego dan nafsu seksual.

Kisah ini mengandung filosofi Tat Sat Tattwa Satua (teologi disampaikan melalui cerita), Sat Tat Satua Tattwa (setiap cerita bermuatan teologi). Permainan kata tersebut menggiring perspektif berpikir umat Hindu Bali untuk memperkuat sradha bhakti melalui nilai Satyam, Siwam, Sundaram atau etika, logika, dan estetika.

Baca juga:  Ogoh-ogoh Dilarang Dipajang di Badan Jalan

Cerita yang diangkat ST Tunas Remaja bersumber dari Kidung Tantri Nandaka Arana. Melalui karya ogoh-ogoh ini, para pemuda Banjar Umahanyar berupaya menghidupkan kembali eksistensi satua Bali yang mulai meredup di tengah perkembangan zaman.

Satua Bali tidak sekadar dongeng pengantar tidur. Tradisi ini menjadi media pendidikan budi pekerti, moral, serta ajaran agama Hindu yang sarat nilai luhur, norma sosial, dan refleksi kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. (Parwata/balipost)

BAGIKAN