
SINGARAJA, BALIPOST.com – Seekor anjing yang diduga terjangkit rabies menggigit sejumlah warga di kawasan Pasar Buleleng, Minggu (8/3). Akibat kejadian tersebut, 12 warga dari empat kelurahan menjadi korban gigitan saat berbelanja di pasar.
Lurah Kendran Made Sumardika mengatakan, informasi awal diterimanya dari Kepala Lingkungan (Kaling) Delod Peken yang mendapat laporan dari anggota pecalang. Saat itu, pecalang yang bertugas sebagai juru parkir di Puri Kanginan melihat seekor anjing liar yang meresahkan warga di sekitar pasar.
Anjing tersebut kemudian berlari ke arah kawasan Kampung Singaraja hingga depan masjid setempat. Dalam kondisi agresif, anjing tersebut sempat menggigit beberapa warga, termasuk anak-anak yang berada di lokasi. Warga bersama pecalang akhirnya berhasil melumpuhkan anjing tersebut.
“Sebagian besar korban merupakan warga yang sedang berbelanja di Pasar Buleleng. Mereka langsung dibawa ke RSUD Buleleng untuk mendapatkan penanganan medis,” jelas Sumardika.
Ia menambahkan, pihak kelurahan telah berkoordinasi dengan dokter hewan serta aparat lingkungan setempat. Dalam waktu dekat, pihaknya berencana melakukan eliminasi terhadap anjing liar yang berkeliaran di wilayah tersebut. Selain itu, masyarakat yang memiliki anjing peliharaan diimbau untuk sementara waktu mengikat atau mengamankan hewan peliharaannya guna mencegah kejadian serupa.
“Kita masih menunggu persetujuan dari Dinas dulu terkait untuk eliminasi. diperkirakan terdapat sekitar 20 ekor anjing liar yang kerap berkeliaran, terutama pada malam hari,”tambahnya.
Sementara itu, data sementara menunjukkan korban gigitan berasal dari empat kelurahan, yakni Kelurahan Kampung Singaraja sebanyak 3 orang, Kelurahan Liligundi 1 orang, Kelurahan Paket Agung 5 orang, dan Kelurahan Kendran 3 orang. Dengan demikian total korban mencapai 12 orang.
Sebanyak 11 korban telah mendapatkan penanganan berupa vaksin anti rabies (VAR) dari RSUD Buleleng. Sedangkan satu korban asal Kelurahan Paket Agung masih menjalani perawatan di RSUD Buleleng karena mengalami patah tulang pada tangan kiri dan harus menjalani operasi akibat kejadian ini.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng Gede Melandrat menjelaskan, dokter hewan dari Puskeswan Kecamatan Buleleng telah melakukan penanganan awal dengan mengambil sampel otak hewan penular rabies (HPR) untuk diuji di laboratorium.
“Dari ciri perilaku hewan tersebut memang mengarah pada rabies, namun kepastiannya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” jelasnya. (Yudha/balipost)










