Ogoh-ogoh ST Cantika yang sempat tumbang sudah kembali berdiri dalam rigging, Sabtu (7/3/2026). (BP/wid)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ogoh-ogoh seka teruna (ST) Cantika, Banjar Sedana Mertasari, Ubung dengan tokoh utama Dewi Saraswati tumbang pada akhir parade. Ogoh-ogoh yang sebelumnya sempat viral dan meraih nilai tertinggi pada nominasi 16 besar ini dikhawatirkan akan didiskualifikasi mengingat kekokohan struktur menjadi poin penting penilaian.

Terhadap hal tersebut, salah seorang juri, I Gede Anom Ranuara saat dikonfirmasi, Sabtu (7/3) mengatakan, tidak dilakukan diskulifikasi mengingat pementasan sudah selesai saat ogoh-ogoh tumbang. “Itu (tumbangnya ogoh-ogoh) terjadi saat dewan juri sudah melakukan rapat pleno,” ungkapnya.

Sebelumnya saat konfrensi pers Kasanga Festival (Kasanga Fest) yang digelar Rabu (4/3) dia mengatakan, jika ada ogoh-ogoh yang jatuh akan didiskualifikasi. Hal tersebut karena dinilai dari segi rancangannya tidak kokoh. Ia menekankan kedisiplinan peserta yang turut dalam parade ogoh-ogoh di kawasan Catur Muka Denpasar. Seperti halnya tidak diperkenankannya ada orang di luar regu yang ikut dalam parade.

Baca juga:  Belanja Bawa Tas Plastik Didenda Rp 500 Ribu, Ini Jawaban Kepala DLHK Denpasar

Sementara itu, Ketua Pasikian Yowana Kota Denpasar A.A Made Angga Harta Yana saat dikonfirmasi membenarkan ogoh-ogoh ST Cantika sempat tumbang usai parade. Ia pun mengaku sempat mengecek ke lokasi saat itu dan didapati ogoh-ogoh sudah berdiri kembali. “Itu jatuh bukan karena patah, tapi ada yang lepas. Tapi sekarang sudah berdiri kembali,” katanya.

Saat dipantau ke lokasi ogoh-ogoh ST Cantika sudah kembali berdiri dalam rigging. Namun nampak ada bambu sebagai penunjang. Sebelumnya penampilan ogoh-ogoh ST Cantika menjadi penampilan yang dinanti-nantikan. Bahkan dalam nominasi 16 besar mendapat nilai tertinggi yakni 456,6.

Baca juga:  Labfor Terkendala Usut Penyebab Kebakaran Gudang Elpiji, Ini Penyebabnya

Konseptor sekaligus arsitek ogoh-ogoh, I Nyoman Mariadi saat ditemui Jumat (6/3/2026) mengatakan, pembuatan ogoh-ogoh tahun ini menyesuaikan regulasi yang menekankan penggunaan material ramah lingkungan. Karena itu, sebagian besar bahan yang digunakan berasal dari material alami. “Bahan utama yang kami gunakan adalah bambu. Selain itu ada hydropaper dan beberapa bahan lain untuk memberikan tekstur pada karya,” ujar Mariadi.

Dalam garapan ogoh-ogoh Banyu Pinaruh ini, ST Cantika menghabiskan anggaran mencapai Rp200 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk pengadaan bahan, pembuatan struktur hingga penyelesaian detail artistik karya dengan lama penggarapan 2 bulan.

Baca juga:  Sekda Badung Hadiri Pengukuhan Pakis Kecamatan Abiansemal

Mariadi mengatakan, pemilihan konsep tahun ini juga berkaitan dengan perjalanan karya ST Cantika dalam beberapa tahun terakhir yang kerap mengangkat tema tokoh spiritual seperti Parwati, Laksmi, dan Saraswati. Karena karya-karya tersebut mendapat perhatian dari penggemar ogoh-ogoh di luar daerah, pihaknya kembali mencoba menghadirkan konsep berbeda namun tetap memiliki nilai filosofis kuat. (Widiastuti/balipost)

BAGIKAN