
DENPASAR, BALIPOST.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja menegaskan, ekonomi Bali tetap menunjukkan kinerja kuat dengan pertumbuhan mencapai 5,82% pada 2025. Angka ini tertinggi dalam tujuh tahun terakhir dan berada di atas rata-rata nasional.
Namun, dalam forum Balinomic 2026, ia mengingatkan adanya potensi tekanan dari meningkatnya eskalasi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, yang diperkirakan dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi Bali hingga 0,05%.
“Dampaknya bisa merambat ke sektor pariwisata, mulai dari penurunan kunjungan wisatawan, kenaikan biaya perjalanan, hingga tertahannya penyelenggaraan event internasional,” ujarnya di sela-sela Balinomics, Selasa (21/4).
Meski demikian, BI Bali menilai ekonomi Pulau Dewata masih memiliki daya tahan yang kuat jika didukung langkah strategis yang tepat. Dalam kesempatan tersebut, Erwin Soeriadimadja memaparkan empat strategi utama dalam menghadapi dinamika ekonomi di tengah gejolak geopolitik.
Pertama, penguatan pariwisata berkualitas. Seperti menjaga citra Bali sebagai destinasi global dengan membenahi isu krusial seperti kemacetan, keamanan, sampah, dan akomodasi ilegal.
Kedua, mendorong investasi sebagai mesin baru pertumbuhan. Menurutnya investasi diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan baru (new engine) yang mendorong efek berganda bagi ekonomi daerah.
Ketiga, revitalisasi sektor pertanian. Diversifikasi ekonomi melalui pertanian sebagai bantalan ketahanan, termasuk pelestarian sistem subak sebagai kearifan lokal.
Keempat, penguatan UMKM dan digitalisasi. UMKM dan ekonomi kreatif didorong sebagai penopang ekonomi berbasis digital sekaligus memperkuat kebanggaan produk lokal.
Dengan implementasi empat strategi tersebut, BI optimis pertumbuhan ekonomi Bali dapat dijaga bahkan ditingkatkan hingga di atas 6% pada 2026.
Erwin juga menegaskan Balinomic tahun ini juga menjadi momentum peluncuran Program Pendidikan Kebanksentralan 2026 yang melibatkan lima perguruan tinggi di Bali. Program ini bertujuan memperkuat literasi ekonomi generasi muda sekaligus mendorong riset yang relevan bagi pembangunan daerah dan nasional.
Sementara itu Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra menegaskan, konflik geopolitik memberikan dampak luas terhadap perekonomian global, termasuk Bali. “Konflik geopolitik berdampak pada ekonomi dan merambat ke semua sektor. Semua negara juga merasakan dampaknya,” kata Dewa Made Indra.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk merespons kondisi tersebut. “Sangat penting seluruh stakeholder mendiskusikan situasi ini. Balinomic menjadi forum untuk membahas dampak geopolitik terhadap ekonomi, sekaligus melihat peluang yang masih bisa dimanfaatkan,” ujarnya.
Menurutnya, forum ini juga diharapkan mampu melahirkan alternatif kebijakan yang konkret. “Dari Balinomic ini kita harapkan lahir rumusan peluang dan solusi kebijakan agar ekonomi Bali tetap survive,” tegasnya. (Suardika/balipost)










