BMKG melakukan kajian dengan alat seismograf. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Belasan kepala keluarga (KK) di Banjar Dinas Sorga Mekar, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng terdampak fenomena rayapan tanah (soil creep) yang terjadi sejak 11 Februari 2026. Pergerakan tanah yang diduga dipicu curah hujan tinggi tersebut menyebabkan sejumlah rumah warga mengalami retakan hingga memaksa sebagian warga mengungsi.

Data sementara mencatat sebanyak 14 kepala keluarga (KK) terdampak akibat pergerakan tanah yang mulai terjadi sejak 11 Februari 2026. Dari jumlah tersebut, dua KK terpaksa diminta mengungsi karena kondisi rumah mereka mengalami retakan cukup parah.

Salah satu warga terdampak, Luh Tilem saat ditemui Jumat (6/3) mengaku kejadian ini merupakan yang pertama kali terjadi di wilayahnya. Ia bersama keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat karena khawatir terjadi pergerakan tanah susulan. “Beberapa keluarga ada juga yang mengungsi, tapi kalau saya dan suami terpaksa tidur di luar rumah,” ujarnya.

Baca juga:  5 Agustus 2025 Disebut Jadi Hari Terpendek, Ini Kata BMKG

Perbekel Desa Lokapaksa, Putu Dodik Tryana, mengatakan pihak desa langsung turun ke lapangan setelah menerima laporan dari kelian banjar terkait adanya rumah warga yang terdampak rayapan tanah. Selanjutnya, data kerusakan dan dampak kejadian tersebut segera diinput dan dilaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buleleng.

“Setelah kami cek di lapangan, datanya langsung kami kirim ke BPBD terkait jumlah kerugian. Dari yang kami ketahui, curah hujan saat itu cukup deras dan berlangsung terus-menerus. Setelah hujan lebat, kami mendapat informasi dari kelian banjar bahwa tanah di salah satu rumah warga mengalami rayapan,” jelasnya.

Baca juga:  Dua Kabupaten Nihil Tambah Pasien COVID-19 Sembuh

Menindaklanjuti laporan tersebut, BPBD Buleleng bersama ahli geologi dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja serta tim dari BMKG Wilayah III turun langsung ke lokasi untuk melakukan kajian. BMKG melakukan pengukuran dengan menggunakan alat seismograf guna mengetahui kondisi tanah di lokasi kejadian. Hasil kajian tersebut diperkirakan akan diketahui dalam dua hari ke depan.

Kepala BPBD Buleleng, I Gede Suyasa, mengatakan peristiwa tersebut menyebabkan permukaan tanah turun sekitar 30 hingga 50 centimeter dengan panjang kurang lebih mencapai 200 meter. Saat ini pihaknya masih menunggu hasil kajian dari BMKG dan tim ahli geologi untuk mengetahui penyebab pasti dari fenomena tersebut.

Baca juga:  Pascagempabumi Berkekuatan 6,9 SR, Tujuh Kali Gempa Susulan Terjadi

“BPBD mendatangkan ahli geologi untuk mengkaji lebih mendalam. Tim dari Undiksha akan ikut memberikan kajian dan turun bersama tim geologi untuk melihat kondisi di lapangan,” ujarnya. (Yuda/balipost)

 

BAGIKAN