Salah satu coffee shop di Denpasar. (BP/dik)

DENPASAR, BALIPOST.com – Di sebuah sudut coffee shop di Denpasar, sekelompok anak muda duduk dengan laptop terbuka di meja. Ada yang menulis, mengedit video pendek, sementara di sisi lain terdengar diskusi tentang hobi komunitas. Pemandangan ini kini bukan hal asing, karena menjadi potret baru Denpasar hari ini, kota yang kreatif, hidup, dan terus bergerak.

Data pemerintah menunjukkan, hingga 2025 jumlah industri kecil dan menengah (IKM) di Denpasar mencapai sekitar 16.885 unit. Sementara, jumlah penduduk pada 2025–2026 diperkirakan sekitar 762 ribu jiwa dengan luas wilayah sekitar 125–127 km persegi yang terbagi dalam empat kecamatan dan 43 desa/kelurahan.

Hari ini, Denpasar tidak lagi sekadar kota transit wisata Bali. Ia telah menjelma menjadi destinasi urban kreatif yang hidup sepanjang hari dari usaha di gang kecil, gedung hingga restoran.

Pertumbuhan ekonomi kreatif tersebut terlihat dari berkembangnya kawasan usaha baru di berbagai titik kota seperti Jalan Merdeka, Waturenggong, Panjer, Melati, Veteran, Tanjung Bungkak, Tukad Yeh Gangga, Kamboja, Gajah Mada dan sekitarnya. Kawasan ini diramaikan usaha kecil, kafe, kedai, butik, studio kreatif, serta usaha jasa yang menjadi magnet aktivitas ekonomi generasi muda

Baca juga:  Hujan-hujan, Pegawai Pemkot Tetap Semangat Buat Penjor HUT

Sepanjang jalan bisa dikatakan aktivitas Denpasar nyaris tidak pernah berhenti. Sejak pagi hari, sudut-sudut kota diwarnai aktivitas, ada pedagang bubur ayam, jajanan tradisional, hingga masyarakat yang memulai rutinitas kerja.

Memasuki siang hingga sore, ritme kota bergeser ke kedai kopi, warung dan tempat makan modern. Pegawai kantoran, mahasiswa, anak sekolah hingga pelaku usaha memadati kedai kopi untuk rapat santai, bekerja dengan laptop, atau berdiskusi bisnis hingga sekadar takeaway.

Budaya ngopi di Denpasar bukan sekadar gaya hidup, tetapi juga ruang kolaborasi ekonomi kreatif. Kondisi ini membuat juga munculnya gerai-gerai kopi yang bahkan ada dikelola anak muda dengan segmen pasar berbeda-beda.

Malam hari justru menjadi puncak kehidupan kota. Pedagang nasi jinggo mulai bermunculan di sore hari di berbagai titik, warung makan tradisional ramai pembeli, hingga restoran keluarga dipenuhi pengunjung. Dari kuliner kaki lima, pusat perbelanjaan hingga restoran modern, pilihan tersedia hampir tanpa batas waktu. Perputaran ekonomi terjadi terus menerus sepanjang hari.

Baca juga:  Bantuan Dana Pusat Dipangkas Rp 202 Miliar, Dewan Karangasem Sarankan Ini

Transformasi Denpasar dari daerah pesisir tidak terjadi dalam semalam. Kota ini tumbuh dari perpaduan unik antara warisan budaya Bali yang kuat dengan energi generasi muda yang adaptif terhadap teknologi. Kreativitas bukan sekadar tren, tetapi kelanjutan dari tradisi panjang berkesenian yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Anak muda Denpasar kini aktif di berbagai sektor ekonomi kreatif, seperti kuliner modern dan tradisional, coffee shop dan roastery lokal, seni tato, studio kreatif, salon kecantikan, fashion Bali hingga bernuansa Korea, streetwear, desain grafis, fotografi, hingga konten digital.

Kekuatan utama mereka terletak pada kemampuan memadukan identitas budaya lokal dengan tren global. Produk bernuansa tradisional justru memiliki nilai tambah karena keunikan budaya Bali yang kuat secara citra dan reputasi.

Fenomena munculnya jejaring komunitas kreatif juga memperkuat ekosistem ekonomi. Kolaborasi antar pelaku usaha, komunitas seni, hingga kreator digital mempercepat pertumbuhan industri kreatif berbasis komunitas, sejalan dengan konsep wisata berbasis masyarakat.

Berdasarkan pantauan, modernisasi tidak menggeser kuliner tradisional. Justru makanan khas Bali mengalami kebangkitan dengan konsep yang lebih kekinian. Warung tradisional tampil lebih bersih, nyaman, dan menarik secara visual, serta dipromosikan melalui media sosial.

Baca juga:  DTIK Festival Kembali Digelar di DNA dan Lumintang, Libatkan UMKM hingga Komunitas

Nasi jinggo, tipat cantok, hingga aneka jajan pasar kini hadir dengan kemasan modern tanpa kehilangan cita rasa asli. Transformasi ini memperluas pasar hingga wisatawan domestik dan mancanegara.

Sebagai ibu kota Provinsi Bali, Denpasar mengalami transformasi pesat menjadi kota kreatif berbasis budaya unggulan. Pengembangan kota kreatif berbasis budaya membawa efek berantai bagi perekonomian Denpasar, antara lain terbukanya lapangan kerja baru, pertumbuhan UMKM dan wirausaha muda, perputaran ekonomi lokal yang cepat, meningkatnya daya tarik wisata perkotaan, serta terbentuknya ekosistem industri kreatif berkelanjutan.

Dengan energi generasi muda yang terus tumbuh, partisipasi masyarakat yang kuat, serta aktivitas ekonomi yang tak pernah berhenti dari pagi hingga malam, Denpasar semakin mengukuhkan diri sebagai kota kreatif berbasis budaya yang membanggakan Bali.

Ini sejalan dengan komitmen pemerintah kota dalam mengembangkan pariwisata budaya, industri kreatif, serta UMKM memperkuat posisi Denpasar bukan hanya sebagai pusat administrasi, tetapi juga sebagai ruang hidup kreativitas dan peluang ekonomi baru. (Suardika/bisnisbali)

BAGIKAN