Truk sampah yang dibeli oleh Desa Adat Blangsinga secara swadaya dengan menggunakan dana kas desa adat. (BP/istimewa)

​GIANYAR, BALIPOST.com – Desa Adat Blangsinga, Kecamatan Blahbatuh, terus berupaya mengoptimalkan penanganan limbah rumah tangga, salah satunya dengan melakukan pengadaan satu unit armada truk sampah secara swadaya dengan menggunakan kas desa. Penyerahan armada tersebut dilakukan Minggu (22/2).

​Bendesa Adat Blangsinga, I Wayan Murtika menjelaskan bahwa keputusan membeli armada sendiri diambil setelah permohonan hibah truk kepada Pemerintah Kabupaten Gianyar belum bisa terealisasi akibat keterbatasan armada daerah.

​Selama ini, pengangkutan sampah di wilayah Blangsinga masih bergantung pada jasa pihak swasta. Namun, muncul aspirasi kuat dari warga agar pengelolaan sampah dilakukan secara lebih efektif, efisien, dan berbasis sumber. ​

Baca juga:  2018, 49 Simantri Baru Terima Hibah Rp 225 Juta

“Kami memutuskan untuk membeli armada meskipun berstatus bekas, namun kondisinya masih sangat layak dan bagus. Sumber dananya murni dari kas Desa Adat,” ungkap Murtika.

​Tidak hanya sekadar mengangkut, Desa Adat Blangsinga juga tengah menyiapkan sistem pengolahan sampah sesuai regulasi pemerintah. Sampah organik akan dikelola mandiri menjadi kompos. Fasilitas pengolahannya dibangun melalui sinergi anggaran APBDes Desa Saba tahun 2026 dan kas desa adat.

Baca juga:  Terpuruk Dihantam Pandemi COVID-19, Bangkit Bersama Jadi Solusinya

​Sampah anorganik diarahkan untuk dijual oleh warga melalui bank sampah milik Desa Saba. Sementara, sampah residu tetap akan dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). ​Murtika menambahkan bahwa uji coba pengolahan sampah organik menjadi kompos telah membuahkan hasil positif dan terbukti tidak menimbulkan bau yang mengganggu. Langkah strategis ini diharapkan mampu menyelesaikan kendala jadwal pemilahan sampah yang selama ini kurang maksimal.

Baca juga:  Pemkab Gianyar Ajukan Hibah RPH Temesi

Dikatakannya lebih lanjut, dengan memiliki armada sendiri, desa adat memiliki kendali penuh atas jadwal pengangkutan sampah organik, anorganik, dan residu.

“Dengan sistem ini, kami berharap pengelolaan sampah di desa adat bisa lebih mandiri. Sampah warga terkelola dengan baik, lingkungan tetap terjaga sesuai konsep palemahan,” pungkasnya. (Wirnaya/balipost)

 

BAGIKAN