Pemasangan lampion jelang Imlek di kawasan Kota Tabanan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Seribu lampion merah mulai menerangi sejumlah sudut Kota Tabanan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili. Ornamen khas Tionghoa itu tak hanya memperindah wajah kota, tetapi juga menjadi simbol harapan sekaligus penegas kuatnya toleransi antarumat beragama di Kabupaten Tabanan.

Lampion dipasang di berbagai titik strategis, mulai dari kawasan konco, gapura Tabanan, sepanjang jalan utama, hingga area taman kota. Pemasangan dilakukan umat Tionghoa bersama Yayasan Kerta Yasa Tabanan sebagai tradisi rutin setiap menyambut Imlek.

Baca juga:  Imlek Tak Lengkap Tanpa Tarian Ini, Simak Fakta Unik Barongsai

Ketua Yayasan Kerta Yasa Tabanan, Liem Surya Adinata mengatakan, lampion memiliki makna spiritual yang dalam bagi umat. Cahaya lampion diharapkan menjadi penerang pikiran dan jiwa dalam memasuki tahun yang baru.

“Ini simbol penyambutan Imlek 2577. Selain mempercantik kota, lampion juga bermakna harapan agar ke depan kehidupan semakin baik,” ujarnya, Kamis (12/2).

Ia menegaskan, tradisi ini bukan sekadar hiasan tahunan. Lebih dari itu, lampion menjadi lambang kebersamaan masyarakat Tabanan yang selama ini hidup rukun dalam keberagaman. “Melalui momentum ini kami ingin terus menjaga persaudaraan lintas agama. Tabanan sudah dikenal harmonis, dan itu harus dipelihara,” katanya.

Baca juga:  Perayaan Imlek, Warga Tionghoa Padati Konco

Selain pemasangan lampion, umat Tionghoa juga menyiapkan rangkaian persembahyangan. Pada malam pergantian tahun, ibadah akan dipusatkan di konco, tepat tengah malam. Selanjutnya, sembahyang Tahun Baru Imlek dilaksanakan pada 16 Februari 2026 sejak pagi.

Perayaan tersebut diharapkan membawa keberkahan, keselamatan dan kesejahteraan bagi umat, sekaligus semakin memperkuat jalinan kerukunan di Kabupaten Tabanan. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN