Wisatawan sedang menikmati suasana di Pantai Kuta, Badung yang tengah mengalami abrasi, Minggu (12/10). Pengikisan daratan pesisir ini terjadi akibat gelombang pasang yang melanda Pantai Kuta dari beberapa hari terakhir. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Jepang melanjutkan proyek konservasi pantai di Bali untuk fase II senilai 9,85 miliar yen atau sekitar Rp1,08 triliun. Targetnya, proyek ini selesai 2028 guna mengendalikan dampak erosi pesisir Pulau Dewata.

“Jepang berkomitmen akan terus berkontribusi dalam mendukung pembangunan Indonesia yang kita cintai,” kata Konsul Jenderal Jepang Miyakawa Katsutoshi, Kamis (12/2) dikutip dari Kantor Berita Antara.

Proyek tersebut yaitu di Kuta-Legian-Seminyak Kabupaten Badung yang masuk paket II dan di Nusa Dua, Tanjung Benoa dan Sanur yang berada di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar yang masuk paket III.

Konservasi pantai juga diperluas ke Candidasa di Kabupaten Karangasem yang masuk paket I.

Baca juga:  Puncak HPN Diundur ke 20 Februari

Adapun badan pelaksana proyek itu adalah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air pada Kementerian Pekerjaan Umum RI.

Untuk fase II periode 2021 hingga diperkirakan 2028 itu kucuran dana menjadi 9,85 miliar yen sekitar Rp1,08 triliun (dengan asumsi kurs 1 yen sebesar Rp109,9) atau meningkat dibandingkan fase I pada periode 2000-2008 sebesar 9,5 miliar yen atau sekitar Rp1,04 triliun.

Diplomat senior itu menambahkan proyek konservasi pantai di Bali didanai dari bantuan pembangunan resmi dari Jepang untuk menekan abrasi dan merevitalisasi jumlah karang.

Pada proyek fase pertama itu dilaksanakan di Sanur dengan pengisian pasir sebanyak 300 ribu meter kubik, groin dan pemecah gelombang laut.

Baca juga:  Tambahan Kasus COVID-19 Bali Balik ke Seribuan Orang, Kematian Capai Puluhan!

Di Nusa Dua dengan pengisian pasir sebanyak 340 ribu meter kubik, groin, dan head land, di Kuta dengan pengisian pasir 520 ribu meter kubik, pemecah gelombang offshore dan transplantasi karang.

Fase pertama lainnya di pesisir Pura Tanah Lot dengan membuat panel batu dan karang.

Berdasarkan gambaran umum proyek metodenya dilaksanakan hampir sama dengan fase I yakni di Kuta-Legian-Seminyak dengan pengisian pasir dan konstruksi breakwater atau pemecah gelombang laut.

Sedangkan pada paket III di Nusa Dua, Tanjung Benoa dan Sanur dilaksanakan menggunakan pasir dari stockpile Mertasari dan pasir yang ada pada area akumulasi secara alami dari waktu ke waktu.

Baca juga:  Tol Mengwi-Gilimanuk Masuk RPJMN, Ini Reaksi Bupati Tabanan dan Jembrana

Untuk di Candidasa dilakukan dengan pengisian pasir serta perbaikan tembok laut dan groin yang ada serta melakukan pemeliharaan.

Adapun groin adalah struktur yang dibangun tegak lurus dari garis pantai untuk menahan pergerakan pasir akibat arus laut.

“Kerja sama ekonomi Jepang dan Indonesia bukan sekedar pertukaran dana atau bantuan keuangan belaka, (tapi) lebih dari itu, kerja sama ini kolaborasi bersama yang tulus untuk melindungi kehidupan masyarakat,” ucapnya di sela resepsi peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Kaisar Jepang di Denpasar, Kamis. (kmb/balipost)

BAGIKAN