
JAKARTA, BALIPOST.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peristiwa banjir dan tanah longsor melanda sejumlah daerah di Tanah Air dalam sepekan terakhir. Dari catatan BNPB, bencana terjadi dari Sukabumi, Jawa Barat, hingga Lombok, Nusa Tenggara Barat.
“Bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi kejadian bencana di Indonesia,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Jumat (16/1) dikutip dari Kantor Berita Antara.
Peristiwa tanah longsor terjadi di Kabupaten Sukabumi, pada Rabu (14/1). Kejadian ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang melanda wilayah dengan kontur tanah labil sehingga menyebabkan pergerakan tanah.
BNPB mencatat sebanyak enam desa di enam kecamatan terdampak, yakni Desa Ridogalih, Desa Mekarsari, Desa Sukamanah, Desa Cikadu, Desa Neglasari, dan Desa Sukasirna.
Akibat peristiwa ini, kata Abdul, sebanyak 31 Kepala Keluarga (KK) serta beberapa akses jalan di Kecamatan Gegerbitung terdampak.
Hingga Kamis (15/1), BPBD Kabupaten Sukabumi telah menerjunkan tim reaksi cepat untuk melakukan pendataan dan penanganan awal di lokasi terdampak.
“BPBD setempat masih terus melakukan pemutakhiran data dari lapangan,” katanya.
Bergeser ke wilayah lain di Pulau Jawa, banjir melanda Kabupaten Jember pada Selasa (13/1). Hingga Kamis (15/1), warga terdampak akibat banjir yang disebabkan oleh luapan Kali Clutak tercatat sebanyak 78 KK di Desa Ampel, Kecamatan Wuluhan.
Ketinggian muka air berangsur surut dari sebelumnya mencapai 100 sentimeter menjadi sekitar 40 sentimeter. Seiring dengan itu, BPBD Kabupaten Jember telah menerjunkan tim reaksi cepat ke lokasi serta mendistribusikan bantuan logistik.
Di wilayah lainnya, cuaca ekstrem berupa angin puting beliung menerjang Kabupaten Situbondo pada Kamis (15/1).
Peristiwa ini dilaporkan terjadi di Desa Banyuputih, Kecamatan Banyuputih, yang mengakibatkan 15 KK terdampak.
Rinciannya, lima unit rumah mengalami rusak berat, satu unit rusak sedang, dan 10 unit rumah rusak ringan. BPBD Kabupaten Situbondo masih melakukan pendataan dan penanganan di lokasi terdampak.
Sementara itu, bencana banjir juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Rabu (14/1) sekitar pukul 16.00 WITA.
Kejadian ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengakibatkan jebolnya salah satu tanggul sungai sehingga merendam permukiman warga di Desa Kuripan, Kecamatan Kuripan.
“Tercatat sebanyak 77 KK atau 259 jiwa terdampak,” ujarnya.
BPBD Kabupaten Lombok Barat telah melakukan asesmen dan menerjunkan Tim Siaga Bencana Desa untuk mengevakuasi warga terdampak bersama TNI, Polri, serta aparat desa setempat.
“Hingga kemarin, banjir dilaporkan berangsur surut. Warga mulai membersihkan rumah dan lingkungan dari sisa material banjir berupa lumpur,” katanya.
Di wilayah lainnya, peristiwa angin puting beliung disertai hujan dengan intensitas tinggi dilaporkan terjadi di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, pada Senin (12/1) sekitar pukul 18.15 WITA.
Akibat kejadian ini, sedikitnya 13 desa dan tiga kelurahan di empat kecamatan terdampak, dengan jumlah warga terdampak mencapai 192 KK atau 727 jiwa. Kerugian materiil meliputi 14 unit rumah rusak berat, satu unit rumah rusak sedang, serta 177 unit rumah rusak ringan.
BPBD Kabupaten Konawe Utara telah merespons kejadian ini dengan melakukan pendataan serta menyalurkan bantuan logistik kepada warga terdampak. Hingga kemarin, tim reaksi cepat BPBD setempat masih melakukan pendataan dan penanganan di lokasi kejadian.
Sementara itu, di wilayah Sulawesi Utara, tepatnya Kabupaten Kepulauan Talaud, banjir terjadi pada Senin (12/1) yang mengakibatkan sedikitnya 95 KK terdampak dengan 95 unit rumah terendam.
Abdul mengatakan banjir tersebut disebabkan oleh luapan air sungai akibat hujan dengan intensitas tinggi.
Merespons kejadian ini, BPBD Kabupaten Kepulauan Talaud telah melakukan pemantauan, evakuasi, serta pendataan di lokasi terdampak. Pada Kamis (15/1), banjir dilaporkan telah surut. (kmb/balipost)










