
MANGUPURA, BALIPOST.com – Banjir yang kerap terjadi pada musim hujan yang mengganggu aktivitas warga Kuta Utara, kini mulai ditangani serius. Pemerintah Kabupaten Badung menyiapkan anggaran yang tak sedikit untuk memperkuat sistem irigasi dan drainase di kawasan padat tersebut.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Minggu (21/6), Pemkab mengalokasikan anggaran sebesar Rp14,82 miliar untuk proyek peningkatan jaringan irigasi Kerobokan–Basangkasa–Umalas Kelod, Kecamatan Kuta Utara. Proyek ini disiapkan sebagai langkah pengendalian banjir yang kerap terjadi di kawasan padat penduduk dan pusat aktivitas ekonomi tersebut.
Kepala Dinas PUPR Badung, I Nyoman R. Karyasa saat dikonfirmasi menerangkan, proyek yang kini masuk dalam tahap tender itu untuk mengatasi persoalan banjir jelang musim penghujan. Pihaknya bergerak cepat mengambil langkah penanganan pengendalian banjir secara terintegrasi melalui perbaikan saluran eksisting, penataan jaringan drainase, hingga pelebaran penampang saluran pada titik-titik yang selama ini menjadi lokasi langganan banjir.
“Memang salah satunya proyek dengan anggaran Rp14 miliar lebih itu untuk penanganan banjir jelang musim hujan,” ungkapnya.
Selain mengurangi risiko dan dampak banjir, peningkatan jaringan irigasi tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan perlindungan terhadap kawasan permukiman, infrastruktur publik serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Proyek ini menargetkan pengendalian banjir di sepanjang Jalan Kerobokan, Jalan Basangkasa, dan Jalan Umalas. “Dengan peningkatan kapasitas saluran, frekuensi genangan diharapkan dapat ditekan sehingga aktivitas warga dan pengguna jalan tidak lagi terganggu saat curah hujan tinggi,” katanya.
Sementara, dari data proses lelang milik Pemkab Badung, pekerjaan yang masuk dalam paket Belanja Modal Bangunan Pembuang Irigasi itu memiliki pagu anggaran Rp14.820.000.000. Program tersebut difokuskan pada peningkatan jaringan irigasi dan drainase di sepanjang Jalan Kerobokan, Jalan Basangkasa, hingga Jalan Umalas Kelod yang selama ini menjadi salah satu titik rawan genangan saat musim hujan.
Kawasan tersebut diketahui merupakan jalur utama yang menghubungkan sejumlah wilayah strategis di Kuta Utara. Tingginya aktivitas masyarakat dan perkembangan kawasan permukiman maupun usaha menyebabkan kebutuhan infrastruktur pengendalian banjir semakin mendesak.
Dari dokumen perencanaan proyek disebutkan, kapasitas saluran eksisting saat ini belum mampu menampung debit banjir secara optimal. “Kondisi ini dipicu oleh sedimentasi pada dasar saluran, penyempitan penampang akibat perkembangan kawasan di sepanjang sempadan saluran, serta keterbatasan sistem drainase yang ada,” katanya.
Persoalan semakin terasa saat musim penghujan. Menurutnya, sejumlah titik genangan kerap muncul di ruas jalan maupun kawasan permukiman, sehingga perlu ditangani dengan cepat melalui proyek peningkatan infrastruktur yang terintegrasi. (Parwata/balipost)









