
MANGUPURA, BALIPOST.com – Maraknya kasus penipuan pemesanan vila atau scammer di Bali kian meresahkan wisatawan sekaligus pelaku industri pariwisata. Modus penipuan yang memanfaatkan media sosial, website palsu, hingga akun tiruan agen vila tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga mencoreng citra pariwisata Bali sebagai destinasi kelas dunia.
Ketua Bali Villa Rental & Management Association (BVRMA) Kadek Adnyana mengungkapkan bahwa pelaku penipuan kerap menggunakan foto-foto vila resmi milik anggota BVRMA untuk dikomersialkan secara ilegal.
“Jadi di Bali itu ada namanya skamer. Jadi ada oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan foto-foto vila kami, foto-foto vila yang sudah resmi ini untuk dikomersilkan oleh oknum terkait,” ujar Kadek Adnyana saat ditemui Rabu (14/1).
Para pelaku berpura-pura menjadi pengelola atau agen resmi vila, lalu menawarkan unit tersebut kepada calon wisatawan. Mereka bahkan mencatut nama vila dan manajemen yang sah untuk meyakinkan korban.
“Mereka seolah-olah menjadi penjual penyewa dari vila-vila tersebut. Sehingga vila itu disewakan kembali ke calon-calon klien, calon-calon kami dengan menggunakan embel-embel nama dari vila-vila kami,” lanjutnya.
Masalah baru terungkap ketika wisatawan yang merasa sudah membayar datang langsung ke lokasi vila. Pihak pengelola resmi tidak menemukan data pemesanan maupun pembayaran.
“Jadi ketika tamu sudah bayar ke mereka, adresnya mereka datang ke kami, di kami tidak ada data. Tidak ada pembayaran tamu, tidak ada booking dari tamu tersebut. Tiba-tiba kami kedatangan tamu yang katanya sudah booking,” jelasnya.
Menurut BVRMA, kasus serupa telah terjadi lebih dari 100 kali dan seluruhnya sudah dilaporkan ke Polda Bali melalui unit Siber serta ke Kominfo Provinsi Bali. Namun hingga kini, tindak lanjut belum menunjukkan hasil signifikan. Dari kasus tersebut, kerugian wisatawan diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, mengingat nilai satu kali pemesanan villa bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.
Sebagai langkah konkret, BVRMA menghadirkan Sistem Verifikasi Vila Resmi yang dapat diakses publik melalui laman resmi https://bvrma.org/verification-page. Sistem ini memungkinkan wisatawan mengecek keabsahan vila dan manajemen sebelum melakukan pemesanan.
“Kami melihat tren penipuan vila semakin meningkat, terutama menjelang high season. Melalui sistem verifikasi ini, wisatawan dapat dengan mudah memastikan apakah vila atau manajemen vila tersebut merupakan anggota resmi BVRMA dan telah melalui proses verifikasi,” ujarnya.
Sistem ini memuat data vila dan manajemen yang telah memenuhi standar legalitas, administrasi, serta etika bisnis pariwisata. BVRMA berharap, inovasi ini mampu melindungi wisatawan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha villa yang taat aturan.
Selain itu, BVRMA juga mengajak pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta platform digital dan OTA untuk berkolaborasi menekan praktik penipuan di sektor akomodasi. Ke depan, sistem verifikasi akan terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan wisatawan terhadap Bali. (Parwata/balipost)










