Ilustrasi - Beberapa wisatawan asing berjalan di kawasan obyek wisata Pura Ulun Danu Danau Beratan, Tabanan, Bali. (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Investor dari warga negara Rusia sangat meminati properti sektor apartemen di Bali. Itu disampaikan Perusahaan konsultan properti Colliers Indonesia, Rabu (7/1).

“Kalau investor yang membangun sekarang memang banyak dari Rusia. Kita lihat memang kenyataan di lapangan seperti itu,” ujar Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto dalam virtual media briefing di Jakarta, seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Selain membangun, banyak juga warga negara Rusia yang menyewa apartemen di Bali. Di samping Rusia, warga negara Australia dan Singapura juga banyak menyewa apartemen di Bali.

“Mereka memang sudah banyak di Bali dan juga biasanya karena Singapura dekat, jadi mereka sistemnya bekerja dari jarak jauh (digital nomad) untuk melaksanakan pekerjaan dari Bali,” kata Ferry.

Untuk di Bali, apartemen bukan sekedar produk hunian tapi produk lifestyle atau gaya hidup. Karena mayoritas proyek itu memang adanya di kawasan wisata seperti yang paling banyak itu di daerah Canggu, Ubud, dan Nusa Dua.

Baca juga:  Pemkab Tabanan Hidupkan Kembali DTW Bedugul, Namun Nihil Investor Berminat

Sehingga yang dijual bukan hanya unit tapi pengalaman mulai dari wellness, kemudian untuk leisure, liburan keluarga sampai konsep menginap lebih lama (long stay) untuk digital nomad.

“Tren yang paling jelas saat ini adalah unit kecil masih jadi pilihan utama terutama di tipe studio dan satu kamar tidur yang mendominasi pasar karena memang paling cocok untuk turis jangka menengah dan investor,” katanya.

Di Bali targetnya adalah memang untuk turis. Jadi tidak seperti Jakarta atau Surabaya yang memang targetnya bisa jadi pengguna akhir (end users) yang memang butuh hunian. Kalau di Bali apartemen itu memang ditargetkan untuk tujuan disewakan untuk kegiatan pariwisata.

Baca juga:  Terkait Kasus Timah, Harvey Moeis Didakwa Rugikan Negara Rp300 Triliun

Unit-unit kecil ini, lanjutnya, memang lebih mudah diserap, harganya lebih ringan sesuai dengan pola hidup penghuni yang lebih banyak beraktivitas di luar unit.

Dari sisi pengembangan, pengembang (developer) sekarang makin jarang membangun apartemen dari nol. Kalau melihat yang banyak terjadi justru re-development atau memanfaatkan bangunan lama di lokasi yang strategis supaya prosesnya lebih cepat dan lebih aman secara regulasi.

Di Bali, apartemen itu memang skemanya lebih ke hak sewa dibandingkan Hak Guna Bangunan (HGB) sehingga Bali ini agak berbeda dengan Jakarta dan Surabaya karena memang ada aturan-aturan terutama aturan adat yang tidak bisa dilanggar.

“Seperti saya sebutkan tadi tidak hanya terpaku pada aturan-aturan secara hukum nasional tapi juga harus mempertimbangkan hukum adat karena di Bali ini memang agak berbeda dengan kota lain. Apalagi sekarang ini aturan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sekarang makin ketat sehingga legalitas jadi faktor penentu,” kata Ferry.

Baca juga:  Kembali Kunjungi Pasar Badung, Ini yang Dibeli Presiden Jokowi 

Dia mengatakan, kalau dari sisi kepemilikan kebanyakan hak sewa (leasehold) kemudian karena pasar apartemen Bali memang sangat berorientasi investor yang lebih banyak menyasar kepada pembeli asing. Ke depannya pasar diproyeksikan masih stabil tapi makin selektif dan tidak semua proyek mungkin yang akan punya kinerja yang bagus.

“Tahun 2026 yang akan unggul adalah proyek yang jelas dari sisi legalnya, konsepnya juga kuat dan benar-benar nyambung dengan karakter lokasinya. Jadi memang Bali ini bukan pasar spekulatif, tapi ini adalah pasar yang menuntut ketepatan strategi,” ujar Ferry. (Kmb/balipost)

 

BAGIKAN