
DENPASAR, BALIPOST.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bali sempat berhenti beroperasi selama tiga hari. Seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Bali dan Indonesia tidak melayani distribusi MBG pada Senin hingga Rabu untuk keperluan persiapan. Program ini kembali berjalan efektif mulai Rabu, 8 Januari. Hal tersebut diungkapkan oleh Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Provinsi Bali, Risca Christina G.W., S.H.
Dia mengatakan, mulai 8 Januari seluruh SPPG diwajibkan kembali beroperasi. “Senin sampai Rabu digunakan untuk persiapan internal. Mulai 8 Januari MBG berjalan normal kembali,” ujarnya.
Selama libur panjang sekolah, pembagian MBG tetap berjalan. Namun hal tersebut berdasarkan persetujuan sekolah dan siswa untuk MBG tetap diterima pada hari libur. Di Denpasar sendiri ada beberapa sekolah yang tidak mengambil MBG selama libur sekolah.
Di Bali, MBG menyasar sekitar 445 ribu penerima, mulai dari balita, siswa TK, SD, SMP, SMK, hingga ibu hamil dan ibu menyusui. Saat ini terdapat 178 SPPG yang telah beroperasi. Ke depan, BGN menargetkan total 335 SPPG di seluruh Bali untuk mengakomodasi kebutuhan yang terus meningkat.
Khusus di Kota Denpasar, saat ini telah beroperasi 22 SPPG, dengan kebutuhan ideal mencapai 62 SPPG. Kebutuhan terbesar berada di wilayah Bali utara. “Di Buleleng kebutuhannya paling banyak. Dari kebutuhan sekitar 68 SPPG, baru 22 yang berjalan. Di Klungkung juga baru 7 dari kebutuhan 21,” jelas Risca.
BGN Bali juga membuka peluang bagi mitra lokal untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan tersebut. Para mitra diharapkan mendaftar melalui portal mitra BGN. Namun demikian, proses pembangunan sejumlah SPPG sempat terkendala cuaca. “Hujan ekstrem menyebabkan beberapa pembangunan tertunda,” katanya.
MBG juga akan sepenuhnya melibatkan pemasok lokal. Dari sisi kualitas, Risca menegaskan bahwa setiap SPPG wajib memiliki tenaga ahli gizi yang bertanggung jawab terhadap mutu dan pemenuhan kebutuhan gizi penerima. “Tenaga ahli gizi saat ini mencukupi, meskipun ada kendala jika harus mengambil dari luar Bali,” ujarnya.
Distribusi dan pengemasan makanan juga menjadi perhatian. Setiap pembagian melibatkan relawan dengan koordinator yang bertanggung jawab, serta pengawasan di sekolah melalui kerja sama pengemudi dan PIC sekolah. “Jika ditemukan makanan rusak, PIC langsung melapor ke kepala SPPG dan makanan segera diganti,” tegasnya.
Risca mengakui, pada awal pelaksanaan sempat ditemukan beberapa kasus makanan kurang layak, terutama karena makanan panas langsung ditutup sehingga cepat rusak. “Itu langsung kami evaluasi dan makanan diganti. Kami mohon jika ada kekurangan atau makanan tidak layak, segera dilaporkan,” katanya.
BGN Bali menargetkan penambahan sekitar 20 SPPG lagi di seluruh Bali pada tahun ini. Dengan dimulainya kembali MBG pada 8 Januari, diharapkan layanan pemenuhan gizi bagi anak-anak dan kelompok rentan di Bali dapat berjalan lebih optimal dan merata. (Widiastuti/bisnisbali)










