Salah satu peserta tampil dalam Lomba Ngwacen Lontar serangkaian Bulan Bahasa Bali 2025, Rabu (19/2) di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar. (BP/Pande Paron)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali kembali menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 sebagai upaya berkelanjutan dalam melindungi dan memuliakan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Bali Nomor 1 Tahun 2018 serta Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang pelindungan dan penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali.

Bulan Bahasa Bali VIII akan berlangsung selama satu bulan penuh, mulai 1 hingga 28 Februari 2026, dengan mengusung tema “Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa”. Tema ini dimaknai sebagai altar pemuliaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali sebagai taman spiritual untuk membangun jiwa yang mahasempurna.

Kadisbud Provinsi Bali, I Gede Arya Sugiartha, menegaskan bahwa Bulan Bahasa Bali bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan ruang strategis untuk memperkuat jati diri kebudayaan Bali di tengah derasnya arus globalisasi.

Baca juga:  Kembali Raih WTP, Gubernur Koster Tegaskan Komitmen WTP Berkualitas dan Esensial Untuk Masyarakat

“Bulan Bahasa Bali adalah wahana memuliakan bahasa ibu kita. Bahasa, aksara, dan sastra Bali bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sumber nilai, etika, dan pengetahuan yang membangun kesadaran rohani dan kebudayaan masyarakat Bali,” ujarnya, Senin (5/1).

Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 dilaksanakan secara berjenjang. Mulai dari desa, kelurahan, dan desa adat, tingkat kabupaten/kota, lembaga pendidikan dari PAUD hingga perguruan tinggi, hingga tingkat Provinsi Bali.

Pembukaan tingkat provinsi dijadwalkan berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, pada Minggu, 1 Februari 2026.

Pada momentum pembukaan tersebut juga akan digelar Festival Penulisan Aksara Bali pada berbagai media, seperti batu, tembaga, lontar, kertas, kanvas, hingga transformasi aksara Bali ke media kreatif dan digital.

Baca juga:  Peralatan Galian C Tertimbun Lahar Dingin, Kerugian Capai Rp 2 M

Rangkaian kegiatan tingkat provinsi meliputi 17 wimbakara (lomba), 8 pementasan seni pertunjukan (sesolahan), 2 widyatula (seminar), 3 kriyaloka (workshop), serta pameran Reka Aksara bertema “Transformasi Bahasa, Aksara dan Sastra Bali dalam Teknologi”.

Selain itu, diselenggarakan pula konservasi lontar (Raksa Pustaka), ruang belajar ramah anak, diskusi sastra Bali, serta penganugerahan Bali Kerthi Nugraha Mahottama kepada dua tokoh atau lembaga berprestasi.

Sementara itu, seluruh kabupaten/kota se-Bali diwajibkan menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali yang akan dibuka oleh bupati atau wali kota masing-masing pada 2 Februari 2026, sehari setelah pembukaan tingkat provinsi.

Baca juga:  Dari Korban Kompor Pembakaran Jenazah hingga Sanggah Kemulan Terbakar

Kegiatan di daerah meliputi lomba-lomba berbahasa Bali, pameran produk UMKM berbasis aksara Bali, festival nyurat lontar dan mengetik aksara Bali secara digital, hingga panggung apresiasi sastra dan seni pertunjukan tradisi maupun modern.

Arya  menekankan bahwa keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi kunci keberhasilan Bulan Bahasa Bali. “Kami mendorong sinergi antara pemerintah, desa adat, lembaga pendidikan, komunitas budaya, akademisi, hingga generasi muda agar Bulan Bahasa Bali benar-benar menjadi gerakan kebudayaan, bukan sekadar peringatan,” tegasnya.

Melalui Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026, Pemprov Bali berharap Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali semakin hidup, adaptif, dan relevan di tengah perkembangan zaman, sekaligus menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan kebudayaan Bali. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN