
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Tebing curam di Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung kembali memicu keresahan warga. Terlebih saat ini sudah masuk musim hujan.
Setiap kali hujan deras mengguyur, material tanah, batu, hingga rumpun bambu kerap longsor dan menutup badan jalan. Arus lalu lintas di jalur Klungkung–Gianyar pun berulang kali tersendat, bahkan sempat lumpuh total.
Bukan hanya membahayakan pengguna jalan, longsor yang terjadi berulang juga menggerus senderan tebing dan mengancam tiga rumah warga yang berdiri tepat di bibir tebing. Kini jarak rumah-rumah itu dengan tebing tinggal sekitar satu meter.
Tiga keluarga terdampak masing-masing I Nyoman Kayun, I Ketut Buncing, dan I Ketut Karep. Mereka mengaku terus dihantui rasa waswas, terutama saat hujan turun deras.
“Kami betul-betul khawatir. Kalau harus pindah, saya bingung harus ke mana. Semoga masalah ini segera mendapat perhatian dan penanganan serius,” ujar Kayun, Jumat (12/12).
Merespons kondisi darurat tersebut, Bupati Klungkung I Made Satria mengatakan penanganan tebing Tusan sudah dirancang dan masuk dalam pembiayaan tahun 2026. Pemkab Klungkung menyiapkan anggaran Rp 10 miliar yang bersumber dari pinjaman daerah ke PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI).
Anggaran ini diarahkan untuk menangani infrastruktur strategis, terutama titik rawan bencana. Penataan tebing Tusan nantinya meliputi penguatan struktur tebing, pembangunan dinding penahan, normalisasi area sisi tebing, hingga pemasangan drainase vertikal dan horizontal untuk mengurangi jenuh air saat hujan.
“Dengan penanganan itu, kami harap jalur Klungkung–Gianyar tidak lagi menjadi langganan penutupan akibat longsor,” ujar Bupati Satria belum lama ini.
Untuk diketahui, tebing setinggi sekitar 30 meter ini memang sudah lama masuk zona merah rawan gerakan tanah. Dalam beberapa kejadian, material longsor pernah menutup seluruh badan jalan sehingga kendaraan dari dua arah terpaksa putar balik. Petugas gabungan harus berjibaku berjam-jam menyingkirkan timbunan material.
Peristiwa terakhir terjadi September 2025. Hujan berintensitas tinggi memicu longsor susulan di sisi timur Tukad Melangit, tak jauh dari lokasi longsor sebelumnya. Meski tidak sampai menutup penuh jalan, material tanah yang turun membuat badan jalan menyempit dan arus lalu lintas merayap. (Sri Wiadnyana/balipost)










