DENPASAR, BALIPOST.com – Sebanyak 980 pecalang siap mengamankan pelaksanaan pangerupukan di Denpasar tanpa sound system dan menghindari minum minuman keras sebelum dan saat mengarak ogoh-ogoh.

Ketua Pasikian Pecalang Kota Denpasar Made Mendra, Kamis 27 Maret 2025 mengatakan, 980 pecalang tersebut tersebar di 35 desa adat di Kota Denpasar.

Masing-masing banjar diamankan oleh 2 pecalang dan 2 pecalang bersiaga di kantor desa untuk saling berkoordinasi antardesa.

Baca juga:  Lansia Hilang di Areal Pura Bomo, Lokasinya Terkenal Angker

Dari 4 kecamatan, jumlah pecalang terbanyak ada di desa adat Denpasar karena memiliki 105 banjar.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan pecalang dan penua, orang yang dituakan mengamankan 360 banjar adat di Denpasar. Rinciannya, Denbar terdiri dari 2 desa adat, Denut terdiri dari 10 desa adat, Dentim 12 desa adat, dan Densel 11 Desa adat.

Untuk menjaga keamanan dan ketertiban telah disepakati bahwa pawai ogoh-ogoh dibatasi hanya di wilayah desa adat tersebut, tidak diperkenankan melewati wilayah desa adat lain.

Baca juga:  Pasikian Pecalang se-Bali Nyatakan Sikap Tolak Ormas Premanisme di Bali

Sementara khusus pengamanan di Desa Adat Denpasar, terutama di Catur Muka yang menjadi titik poin pelaksanaan tawur agung kesanga  dirangkai dengan pengerupukan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pecalang desa adat Denpasar.

Menurutnya, tidak ada titik rawan khusus yang mesti diatensi, semua wilayah terpantau namun semua pecalang berkeliling untuk memantau jalannya pelaksanaan pengerupukan.

Pelaksanaan pawai ogoh-ogoh dimulai dari depan banjar, baru kemudian ke pertigaan atau perempatan masing-masing banjar. (Citta Maya/balipost)

Baca juga:  Tunjukkan Kesiapsiagaan Jaga Kesucian Catur Brata Penyepian, 10 Ribu Lebih Pecalang Hadiri Gelar Agung 2026

Tonton selengkapnya di video

BAGIKAN