Pedagang di pasar tradisional sedang memilah cabai rawit merah. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pada Mei 2024 secara year on year (yoy), Provinsi Bali mengalami inflasi sebesar 3,54 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 107,17. Inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Badung sebesar 4,01 persen dengan IHK sebesar 105,64 dan inflasi terendah tercatat di Singaraja sebesar 2,92 persen dengan IHK sebesar 106,64.

Kepala BPS Bali Endang Retno Sri Subiyandini, Senin (3/6) mengatakan, inflasi tahunan (yoy) terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya IHK pada sembilan kelompok pengeluaran yaitu, kelompok makanan, minuman dan tembakau naik sebesar 7,71 persen, kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,56 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,10 persen.

Baca juga:  Naik Ratusan Persen Dibanding Bulan Sebelumnya, Wisman ke Bali Didominasi Negara Ini

Kelompok kesehatan mengalami kenaikan IHK sebesar 1,38 persen, kelompok transportasi sebesar 1,87 persen, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 3,17 persen, kelompok pendidikan sebesar 3,24
persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 4,23 persen dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 2,12 persen.

Sementara itu, dua kelompok tercatat mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun sebesar 0,22 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y pada bulan Mei 2024 antara lain beras, bawang merah, tomat, bawang putih, cabai merah, tarif parkir, Sigaret Kretek Mesin (SKM), Akademi atau Perguruan Tinggi, pisang, nasi dengan lauk, Sigaret Putih Mesin (SPM), daging ayam ras, minyak goreng, kue basah, emas perhiasan, kol putih/kubis, kopi bubuk, gula pasir, kue kering berminyak, dan pembalut wanita.

Baca juga:  Kontak Senjata dengan KKB, Bharada Komang Meninggal

Sementara itu, komoditas yang menahan laju inflasi y-on-y dengan memberikan sumbangan deflasi antara lain bahan bakar rumah tangga, tongkol diawetkan, sawi hijau, daging babi, sabun cair/cuci piring, kentang, vitamin, jeruk, ikan tongkol/ ikan ambu-ambu, bensin, canang sari, detergen cair, sabun mandi cair, sabun mandi, telepon seluler, mie kering instan, pepaya, sabun detergen bubuk, salak, dan pakaian bayi.

Secara bulanan (mtm), Provinsi Bali tercatat mengalami deflasi sebesar 0,10 persen. Sementara secara ytd tercatat inflasi sebesar 1,68 persen.

Baca juga:  Penduduk Miskin Bali di September 2021 Capai Tertinggi Kedua Setelah 2015

Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi m-to-m pada bulan Mei 2024 antara lain beras, tomat, daging ayam ras, sawi hijau, cabai rawit, telur ayam ras, buncis, pepaya, angkutan antar kota, jeruk, vitamin, kangkung, kacang panjang, buah naga, dan semangka.

Sementara itu, komoditas yang menahan laju deflasi m-to-m dengan memberikan sumbangan inflasi antara lain bawang merah, tarif parkir, kol putih/kubis, jagung manis, nasi dengan lauk, bawang putih, kue kering berminyak, terong, minyak goreng, cabai merah, ikan tongkol/ ikan ambu-ambu, bawang bombay, emas perhiasan, ayam goreng, cuci kendaraan, bubur, canang sari, dan shampoo. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *