Dirjen Perhubungan Laut Antoni Arif Priadi, Kamis (21/3) saat berada di Pelabuhan Benoa, Denpasar. (BP/may)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali memiliki perairan dangkal cukup banyak. Untuk itu, menara suar sangat diperlukan.

Dirjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, Antoni Arif Priadi, Kamis (21/3) mengatakan, seharusnya pada satu pulau ada satu suar. Namun dari 17.000 pulau, Indonesia baru memiliki 284 menara suar dan 5.300 lampu suar. Itu salah satu tantangan di bidang kelautan.

“Bali merupakan daerah kepulauan, ada beberapa pulau jadi konsep berpikir kepulauan harus dipakai, jangan dipakainya konsep negara continental, itu penting banget. Jadi transportasi itu kebutuhan utama, dasar, bukan kebutuhan penunjang,” ujarnya.

Ia berharap pembangunan menara suar semakin memadai ke depan. Sebab, menara suar sebagai penuntun. Menara suar sangat penting untuk wilayah terluar.

Baca juga:  Pohon Bertumbangan, Tower Radio di Ketewel Timpa Tiga Bangunan

“Jangan sampai daerah 3T itu diplesetkan menjadi terdengar sayup sayup. Itu penting, jangan sampai T-nya berubah menjadi terdengar. Artinya tidak ada orang yang pernah ke situ, artinya itu harus kita jaga, sekaligus dengan adanya suar menjaga, menjadi penuntun untuk keselamatan pelayaran. Yang menggunakan para pelaut yang ada di atas kapal,” ujarnya.

Apalagi Bali banyak kedatangan kapal pesiar sehingga menara navigasi sangat diperlukan walaupun ada alat navigasi yang canggih namun juga perlu penuntun dan tidak bisa diabaikan.

Baca juga:  Hasil Rapid Tes Kelompok ODP dan OTG, Positif COVID-19

“Kalau ada lampu di sebuah titik maka kapal akan menuju ke sana, tidak perlu menggunakan alat -alat navigasi. Kalau sudah ada penuntun tapi sepanjang dua lampu itu arahnya satu garis berarti arahnya sudah benar, engga bakalan kandas dan sebagainya karena air itu kan kedalamannya engga semuanya dalam apalagi di Bali ini banyak daerah-daerah yang dangkal juga,” ungkapnya.

Keberadaan menara suar, menurutnya sangat penting. Tanpa adanya menara suar, berpotensi besar terjadinya kecelakaan laut meski ada faktor lain yang menjadi penyebab, misalnya SDM.

Baca juga:  Soal Proyek Pelabuhan Benoa, Daerah Bisa Hancur Kalau Semua Izin Dikeluarkan Pusat

“Seperti di Terusan Suez belum lama ini, kapal besar lewat situ kandas , akhirnya nutupin Suez beberapa minggu evakuasinya, coba bayangin berapa kerugian di dunia itu hilang karena barangnya tidak sampai dalam seminggu, berapa uang harus dibayarkan asuransi dan sebagainya,” bebernya.

Ia berupaya menjaga agar tidak terjadi kecelakaan laut tapi hal itu masih terjadi. Contohnya saat kecelakaan di Labuan Bajo, pihaknya langsung melakukan sosialisasi pentingnya menara suar tersebut. Pada 2022-2023, pihaknya membangun fasilitas kenavigasian distrik navigasi tipe A kelas II Pelabuhan Benoa dengan anggaran Rp78 Miliar. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN