Pembeli membawa barang belanjaan usai bertransaksi di Pasar Badung, Denpasar. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pada Desember 2023, IHK gabungan dua kota di Provinsi Bali (Kota Denpasar dan Kota Singaraja) secara yoy tercatat inflasi 2,77 persen. Sedangkan Singaraja mengalami inflasi 4,31 persen, termasuk lima kota dengan inflasi tertinggi di Indonesia.

Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Bali, I Made Agus Adnyana, Selasa (2/1) mengatakan, dengan melihat beberapa peristiwa yang terjadi di antaranya penurunan BBM non subsidi, perayaan hari raya (Natal, Tahun Baru, Saraswati, Pagerwesi), kenaikan tarif angkutan menyambut Nataru, maka dapat menggambarkan indikator inflasi di Bali.
Inflasi mtm pada Desember 2023 sebesar 0,48 persen, dan secara ytd dan yoy nilainya sama 2,77 persen. Jika melihat histori inflasi secara mtm dari 2022- 2023, inflasi 2023 cukup stabil. Tertinggi, inflasi terjadi pada Januari 0,66 persen sedangkan bulan lainnya di bawah 0,5 persen secara mtm.

Baca juga:  Ada Apa dengan Pertanian di Bali?

Kelompok pengeluaran yang menyumbangkan inflasi Desember 2023 secara mtm yaitu kelompok I (makanan, minuman dan tembakau) setinggi 1,03 persen, kelompok XI (perawatan pribadi dan jasa lainnya) setinggi 0,84 persen, kelompok IV (perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga) setinggi 0,82 persen. Sementara kelompok VI (transportasi) setinggi 0,66 persen, kelompok VIII (rekreasi, olahraga, dan budaya) setinggi 0,55 persen, kelompok VII (informasi, komunikasi, dan jasa keuangan) setinggi 0,19 persen, kelompok V (kesehatan) setinggi 0,11 persen dan kelompok X (penyediaan makanan dan minuman/restoran ) setinggi 0,03 persen.

Dikatakannya, jika melihat tren perkembangan inflasi gabungan dari Januari 2021 hingga Desember 2023, tahun 2023 inflasi Bali berada di bawah 2022 secara ytd, namun lebih tinggi dari tahun 2021. Begitu juga inflasi yoy, tahun 2023 mengalami inflasi 2,77 persen berada di bawah target nasional.

Baca juga:  Buleleng, Rapid Test Sasar 2.675 Orang

Jika dilihat per kota inflasi di Bali yaitu Denpasar dan Singaraja, Denpasar mengalami inflasi 0,49 persen mtm, 2,54 persen secara yoy. Tercatat Desember hanya pakaian dan alas kaki yang mengalami deflasi. Sedangkan inflasi Singaraja tercatat 0,43 persen secara mtm namun secara yoy, inflasi 4,31 persen, berada di atas target nasional.
Kedua kota mengalami inflasi disumbangkan oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau. Dari 90 kota amatan di Indonesia, tercatat 31 kota mengalami inflasi diatas 3 persen, 5 kota di antaranya mengalami inflasi 4 persen, salah satunya Singaraja.

Sementara inflasi menurut komponen, yaitu komponen inti secara mtm gabungan dua kota 0,26 persen, komponen yang diatur pemerintah inflasi 0,56 persen, dan komponen bergejolak inflasi 1,36 persen. Sedangkan inflasi energi mengalami deflasi, 0,03 persen dan komponen bahan makanan 1,25 persen.

Baca juga:  Picu Inflasi, Kenaikan PPN 12 Persen Dinilai Tak Tepat

Sesuai catatan BPS, komoditas yang menyumbangkan inflasi tertinggi secara mtm yaitu cabai merah, angkutan udara, emas perhiasan, canang sari, cabai rawit. Sementara yang menahan laju inflasi yaitu gabungan dua kota, tongkol diawetkan, mangga, pepaya, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, jeruk.

Penyumbang inflasi secara tahunan atau yoy untuk gabungan dua kota yaitu beras,cabe merah, emas perhiasan, cabai rawit, biaya akademi perguruan tinggi. Indeks perkembangan harga cabai rawit dari 2021-2023, tahun 2023 di 3 bulan terakhir selalu mengalami kenaikan, bahkan sejak November harganya di atas tahun 2021 dan 2022.
Pada tarif angkutan udara November-Desember 2023, terjadi peningkatan indeks harga, cabai merah naik dibandingkan dua tahun sebelumnya. Gula pasir mulai September harganya merangkak naik sampai Desember 2023, lebih tinggi dari dua tahun sebelumnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *