Lokasi longsor di Desa Bukit, Karangasem yang menewaskan seorang santri pada Senin (4/12). (BP/nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Seorang santriwati, Mirafsul Aulia (17), tewas tertimbun longsor di Dusun Kampung Anyar, Desa Bukit, Karangasem pada Minggu (3/12) malam. Pada saat bencana terjadi, korban dan dua santriwati lainnya sedang menampung air untuk keperluan esok harinya.

Dari penuturan seorang guru di Yayasan Pondok Pesantren At-Taqwiim, Saipul Haji, Senin (4/12), saat kejadian para guru sedang mengikuti rapat. Rencananya, usai mengikuti rapat, para guru kembali akan menengok santri.

Akan tetapi, saat hendak menengok, sekitar pukul 23.00 WITA, ada laporan kalau santri tertimbun longsor. “Ada tiga orang santri yang tertimbun longsoran senderan lapangan voli. Korban sempat dipanggil oleh temannya untuk disuruh masuk ke dalam. Mungkin karena tidak didengar akibat hujan yang deras, sehingga korban masih di luar. Dan saat itu, bencana tersebut terjadi,” ucapnya.

Baca juga:  Permintaan Terus Meningkat, Perajin Kain Geringsing Kewalahan

Dia menjelaskan, untuk saat ini korban yang meninggal sudah dibawa ke rumah duka di Buleleng. Sementara, dua korban luka masih menjalani perawatan di RSUD Karangasem.

Sementara itu, Ketua Yayasan Pondok Pesantren At-Taqwiim, Kamarudin, menjelaskan, saat kejadian di bawah ada enam orang santri. Tiga orang di dalam kamar dan tiga orang lain di luar.

Satri yang lainnya sedang mengikuti proses belajar mengajar. Tiga korban yang tertimbun longsoran senderan lapangan bola voli itu sedang menampung air hujan karena wilayah itu memang kesulitan air selama musim panas.

Baca juga:  Risiko Kebencanaan Karangasem Tinggi, Anggarannya Justru Turun Rp 300 Jutaan

“Pas kejadian, tiga santri ini mengisi air hujan untuk ditampung di tandon. Air ini untuk dipergunakan sehari-hari. Satu korban yang meninggal dunia dalam posisi tengkurap, yang duanya tertimbun setengah badan, sehingga mereka yang berteriak meminta tolong kepada temannya,” katanya.

Kamarudin menjelaskan, pascakejadian ini untuk sementara waktu proses belajar mengajar diliburkan. “Sementara pembelajaran dinonaktifkan. Itu kita lakukan untuk menenangkan para santri dengan kejadian ini,” sebut Kamaruddin.

Baca juga:  Gempa Bermagnitudo 7,4 Guncang NTT, BMKG Keluarkan Peringatan Tsunami

Ia menyatakan di pondok Pesantren At-Taqwiim ini ada sebanyak 160 santri. Dari jumlah itu santri perempuan sebanyak 90 orang. “Untuk Satri perempuan lokasinya di bawah, untuk laki-laki di atas,” jelasnya. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN