Seorang petani sedang memanen cabai. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kredit atau pembiayaan sektor pertanian di Bali masih sangat rendah yaitu 5,13 persen dari portofolio kredit industri di Bali. Jumlah ini masih jauh dibandingkan dengan kredit di sektor penunjang pariwisata (akomodasi, makan dan minum) yang porsinya mencapai dua kali lipat.

Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara, Jumat (27/10) mengatakan, dengan rendahnya pembiayaan di sektor pertanian, OJK meluncurkan Kredit atau Pembiayaan Sektor Prioritas (KPSP) pertanian kepada petani padi. Keberadaan KPSP diharapkan bisa membantu permodalan bagi petani ketika akan memulai musim tanam padi.

Baca juga:  Meski Indikator Asesmen Diubah, Level PPKM Bali Masih Sama

“Ke depan KPSP di Kabupaten Tabanan, diharapkan dapat menjadi solusi untuk permasalahan yang dihadapi petani dengan sasaran petani padi yang berada di kelompok subak yang merupakan organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah (irigasi),” kata Mirza.

Sebelumnya, pada Juni 2021 OJK telah mengeluarkan Generic Model Skema KPSP pertanian yang menjadi acuan bagi program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di sektor pertanian.

 

Ditambahkan Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra Kristrianti Puji Rahayu pihaknya terus berupaya mendorong perluasan jangkauan akses keuangan melalui TPAKD yang telah terbentuk di provinsi dan 9 Kabupaten/Kota di Bali. Maka dari itu, sesuai target Pj. Gubernur Bali menyelesaikan kemiskinan ekstrem, maka salah satu upaya yang dilakukan adalah memberdayakan komunitas difabel. “Untuk itu OJK bersama TPAKD juga memberikan pendampingan dan akses pembiayaan kepada penenun dan peternak difabel,” ujarnya.

Baca juga:  Tambahan Kematian COVID-19 Bali Capai Rekor Baru! Ini 3 Besarnya

Berdasarkan sektornya, pertumbuhan kredit  disumbangkan oleh peningkatan penyaluran kredit di sektor perdagangan besar dan eceran Rp 1,2 Triliun, tumbuh 5,14 persen. Kredit investasi sebesar Rp2,82 triliun atau tumbuh 11,36 persen. Ada indikator ekspansi yang dilakukan pelaku usaha. Hal ini membuktikan kepercayaan masyarakat terhadap membaiknya perekonomian di Bali. Penyaluran kredit konsumsi Rp600 miliar, tumbuh 3,82 persen, sehingga selain masyarakat konsumsi namun juga tetap melakukan investasi.

Baca juga:  Kembali, Aktivitas Subduksi Zona Megathrust Guncang Mentawai

Keberpihakan LJK terhadap UMKM terlihat jelas dari penyaluran kredit perbankan dengan porsi lebih dari 50 persen yaitu 52,74 persen, tumbuh 5,82 persen (yoy). Artinya porsinya lebih besar, dan tumbuh di atas agregat yaitu di atas 4,8 persen. Sementara pertumbuhan kredit korporasi dan ritel masing-masing 4,79 persen dan 3,96 persen. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *