Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster saat pembukaan Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 7 Tahun 2023, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (23/8). (BP/Win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tenun tradisional Bali sedang diambang bahaya. Hal ini dikarenakan minimnya upaya pelestarian dan pengembangan oleh seluruh stakeholder yang ada di Provinsi Bali. Dari masalah tersebut, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali mengumpulkan IKM dan perajin, hingga produsen untuk memperbaiki di hulu dengan memanfaatkan Taman Budaya Provinsi Bali sebagai tempat pembinaan para IKM secara gratis bersinergi dengan Bank BPD Bali dan Balimall.id.

Hal itu disampaikan Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster saat mendampingi Gubernur Bali, Wayan Koster membuka Pameran IKM Bali Bangkit Tahap 7 Tahun 2023, di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (23/8).

Melalui Pameran IKM Bali Bangkit, dari tahun 2020 akhir Desember, Putri Koster mengajak sebanyak 800 UMKM untuk menampilkan hasil karya terbaiknya, dan sampai tahap ke-6 di tahun 2023 ini total omset yang diraih oleh pelaku UMKM nilainya mencapai sebesar Rp58,868 miliar.

Baca juga:  Angkat Branding Usada Bali, Ny. Putri Koster Ingatkan Faktor Kemasan dan Kebersihan Produk

“Dalam pameran ini, titiang (saya,red) tidak hanya mengajak para pedagang untuk berjualan, namun mengedukasi mereka bahwa pameran kerajinan yang sedang ditampilkan di Pameran IKM Bali Bangkit adalah kekayaan kerajinan yang sangat mulia dan berkualitas dari warisan leluhur Bali,” ungkap Bunda Putri.

Melalui Pameran IKM Bali Bangkit ini, Dekranasda Bali tidak hanya mengadakan pameran, namun juga bertugas untuk menjalankan fungsi kontrol situasi kondisi para UMKM dan konsumen di Bali agar bersama – sama berjalan beriringan dalam menjaga kualitas kerajinan yang diwariskan oleh leluhur Bali. “Titiang sangat miris, karena sudah berpuluh – puluh tahun, kain tenun endek Bali menurut hasil survei Universitas Hindu Indonesia, bahwa di pasar – pasar tradisional hanya 13 persen kain tenun endek Bali yang ditenun di Bali terjual di pasar. Sedangkan 87 persennya endek Bali yang dijual di pasar adalah hasil tenun dari luar Bali,” tandasnya.

Baca juga:  Lindungi Kain Tenun Tradisional Bali Perlu Sinergi Semua Pihak

Atas masalah ini, istri Gubernur Bali, Waya Koster ini, mengatakan semua pihak semakin mengetahui bahwa ekonomi Bali dalam kondisi sangat mengkhawatirkan, karena pekerjaan tenun di Bali telah diambil oleh orang luar. Kemudian pasar juga diambil, uang keluar, dan endek Bali terancam di masa mendatang hanya tinggal kenangan serta berubah menjadi endek troso dan sebagainya akibat adanya perilaku yang menjauhkan pelestarian kain tenun endek Bali melalui perkembangan bisnis yang pragmatis.

Baca juga:  Ny Putri Koster Sosialisasikan Upaya Wujudkan Bali Pulau Digital

Dia menambahkan, masalah yang sama juga dialami pada kain tenun songket Bali, akibat dicurinya motif songket untuk di bordir, dan mereka dengan sengaja menjualnya dengan nama songket bordir. Karena itu, dirinya sudah bicara dengan Kanwil Kemenkumham Bali bahwa pencurian motif songket Bali adalah tindakan yang melanggar Undang – Undang Hak Cipta.

“Jadi, sebelum terjadinya pelanggaran hukum, kami di Dekranasda Provinsi Bali telah mengedukasi para pedagang untuk mewanti – wanti agar tidak menjual kain bermotif songket Bali di kain bordir. Apabila ini dijual, maka ada hukuman kurungan penjara sampai denda dari ratusan juta hingga milyaran rupiah. Maka dari itu, Pameran IKM Bali Bangkit memiliki jargon, kami menampilkan produk yang sangat berkualitas, dengan harga yang pantas,” pungkasnya. (Winata/Balipost)

BAGIKAN