Dwi Yustiani, SST. (BP/Istimewa)

Oleh Dwi Yustiani, SST., M.M.

Pertama kalinya, jumlah kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali di tahun 2022 turun di bulan November 2022 sedalam 5,85 persen. Badan Pusat Statistik mencatat bahwa terdapat 287.398 kunjungan wisman langsung ke Bali di bulan November 2022. Bulan Oktober 2022 menjadi puncak tertinggi datangnya wisman langsung ke Bali selama tahun 2022 yakni tercatat 305.244 kunjungan.

Ketika kembali ke memori 2021 silam, dimana kedatangan wisman saat itu hanya mencapai 51 kunjungan wisman selama setahun, maka tentu tanda pulihnya pariwisata dilihat dari sisi demand cukup drastis meningkat. Namun jika kita telisik lagi di tahun 2019 sebelum terjadinya pandemi, capaian 2022 jauh di bawah capaian kala itu, justru hanya sepertiga dari capaian sebelum pandemi. Bila dikatakan pariwisata sudah kembali ke posisi semula, tentu belum. Namun geliat kembalinya kinerja pariwisata tentu tanda itu nyata adanya.

Menurunnya jumlah wisman yang datang langsung ke Bali di bulan November 2022, mungkin bukanlah tanda nyata akan penurunan kinerja pariwisata kembali. Namun, penurunan terjadi karena rangkaian kegiatan besar dunia yakni pelaksanaan G20 yang mengharuskan wilayah harus steril dan aman, serta adanya pembatasan penerbangan dari dan ke Bali kala itu. Hal ini menunjukkan bahwa dari empat aspek pariwisata, aspek accessibility meliputi transportasi sangat berpengaruh pada kedatangan wisatawan mancanegara.

Namun ini hanyalah starting point akan bertumbuhnya kembali sektor pariwisata. Pariwisata bahkan sempat diklaim sebagai sektor yang paling akhir bangkit dari keterpurukan ekonomi karena pandemi Covid-19.  Ketika tahun 2019 kedatangan turis internasional ke kawasan Asia Tenggara berkisar di angka 139 juta orang, dan turun drastis menyentuh angka hanya 26 juta orang di tahun 2020 (UNWTO World Tourism Barometer 2021).

Baca juga:  Bali dengan Problema Penduduk Pendatang

Namun, data bulan November 2022 menunjukkan bahwa pariwisata menunjukkan kinerja yang kuat pada Januari-September 2022 dengan kedatangan wisatawan mancanegara meningkat 63% dalam sembilan bulan pertama pasca pandemi. Diperkirakan terdapat 700 juta wisatawan mancanegara yang melakukan perjalanan dalam rentang waktu Januari-September 2022 dan tercatat hampir dua kali lipat (133%) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021 (UNWTO World Tourism Barometer and Statistical Annex, November 2022).

Babak demi babak telah terbentuk tatkala pandemi menghantam dunia yang memberikan goncangan cukup dahsyat bagi dunia pariwisata khususnya, dan ekonomi global pada umumnya. Menurut publikasi UNWTO yang berjudul Covid-19 and The Future of Tourism in Asia and The Pasific, masa pandemi baik pra dan pasca terbagi menjadi empat poin.  Poin pertama di masa sebelum pandemi disebutkan bahwa pariwisata menjadi industri yang mengalami ledakan pertumbuhan yang luar biasa di kawasan Asia Pasifik, yang ditandai dengan adanya peningkatan luar biasa pada kedatangan wisatawan mancanegara secara global yakni dari 208 juta pelancong di tahun 2010 menjadi 360 juta pelancong di tahun 2019.

Sebelum Covid-19 melanda, megatrend turut mempengaruhi pariwisata, diantaranya iklim ekonomi yang meningkat menyebabkan naiknya penduduk berkelas pendapatan menengah untuk berwisata, teknologi yang mampu memudahkan akses informasi, dan secara demografi kaum muda menjadi kuantiti penting dalam dunia pariwisata. Poin kedua, ketika pandemi melanda beberapa dampak yang telah ditimbulkan diantaranya terpuruknya sektor bisnis pariwisata dan transportasi yang diakibatkan oleh pembatasan perjalanan internasional yang diberlakukan hampir di seluruh negara.

Baca juga:  Bali Kehilangan Raja Buduh

Memasuki poin ketiga yakni pariwisata mendatang di kawasan Asia Pasifik yakni membidik bagaimana pariwisata berkelanjutan akan tetap menjadi prioritas dalam pengembangannya pasca pandemi. Kemudian, pada poin ke empat untuk terwujudnya pariwisata yang berkelanjutan, maka dibutuhkan kolaborasi pentahelic untuk mewujudkan blueprint terkait pariwisata berkelanjutan.

Bali yang notabene mengandalkan sektor pariwisata dalam kegiatan ekonominya, menjadikan pariwisata masih menjadi primadona penggerak ekonomi hingga saat ini. Angka tingkat hunian kamar seolah menjadi takaran bahwa industri pariwisata masih bernafas lega atau justru sesak. Dari catatan Badan Pusat Statistik, tingkat penghunian kamar hotel bintang di Bali tercatat menjadi yang tertinggi selama tahun 2022 yakni 48,91 persen. Kondisi ini menujukkan indikator industri pariwisata dari sektor bisnis akomodasi sudah mulai menggeliat.

Transisi pandemi ke pasca pandemi ini memang membutuhkan usaha dari berbagai pihak untuk meningkatkan kinerja pariwisata secara utuh. Kontinuitas transportasi menjadi penting, dan perlu ditingkatkan lebih luas lagi. Pasalnya, ketika pembatasan penerbangan terjadi, jumlah kedatangan wisman pun menjadi terdampak.

Sama seperti halnya ketika adanya pembatasan perjalanan atau travel restriction yang diberlakukan oleh berbagai negara memberikan efek bahwa kegiatan pariwisata menjadi terganggu. Transisi erat kaitannya dengan promosi. Mengapa demikian? Karena ibaratnya seperti kita menjual sebuah barang, apalagi bukan barang yang baru, maka kita perlu membangkitkan ingatan konsumen yang terdahulu sehingga akan tergerak untuk membeli barang tersebut kembali. Keberlanjutan juga menjadi cerminan disini apabila wisatawan mancanegara yang datang ke Bali adalah seorang repeater bukan hanya menjadi new comer saja.

Baca juga:  Ada Apa dengan Pertanian di Bali?

Mengapa promosi harus gencar dilakukan? Berdasarkan data yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik, pada bulan Agustus 2022, 54,22 persen wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia tercatat masuk melalui pintu Bali. Prestasi ini mampu memberikan gambaran bahwa memang Bali menjadi pintu utama wisman ke Indonesia.

Apabila ditelisik lebih dalam lagi menurut kawasan, 93,80 persen wisman kawasan Oseania masuk ke Indonesia melalui pintu Bali, 69,05 persen wisman kawasan Eropa masuk ke Indonesia melalui pintu Bali, dan wisman kawasan Amerika masuk ke Indonesia melalui pintu Bali. Berbeda kondisi dengan wisman yang berasal dari kawasan Asean dan Timur Tengah.

Hanya 21,88 wisman asal Asean masuk ke Indonesia melalui pintu Bali dan hanya 18,25 persen wisman kawasan Timur Tengah masuk melalui pintu Bali. Capaian kedatangan wisman dari kedua kawasan ini dirasa masih cukup rendah. Untuk itu, sangat penting bila dilakukan riset atau promosi kembali terutama untuk kedua kawasan ini. Kinerja pariwisata Bali tentu menjadi tumpuan ekonomi Bali, meskipun sektor lain tengah berjuang untuk menjadi backup atau penopang ekonomi Bali.

Penulis, Statistisi Ahli Muda Badan Pusat Statistik Provinsi Bali

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *