KPU Bali merilis hasil PDPB Periode September 2022 menjelang Pemilu Serentak Tahun 2024, Senin (3/10). (BP/Win)

DENPASAR, BALIPOST.com  – Menyongsong Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak Tahun 2024, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bali terus melakukan pemutakhiran data pemilih berkelanjutan (PDPB). Hasil rekapitulasi PDPB KPU Kabupaten/kota se-Bali (periode September 2022) jumlah data pemilih berkelanjutan (DPB) mencapai 3.120.035 orang pemilih.

Jumlah ini meningkat dibandingkan periode Agustus 2022 yang jumlahnya 3.024.914 orang pemilih. Kabupaten Buleleng menjadi daerah dengan jumlah pemilih terbanyak, yaitu 588.074 orang.

Ketua KPU Provinsi Bali, I Dewa Agung Gede Lidartawan, Senin (3/10), mengatakan hasil Rekapitulasi Daftar Pemilih Berkelanjutan Tahun 2022 periode September jumlah pemilih sebanyak 3.120.035 pemilih dengan rincian jumlah pemilih laki-laki sebanyak 1.541.364 pemilih dan rincian jumlah pemilih perempuan sebanyak 1.578.671 pemilih. Jumlah ini tersebar di 9.917 TPS di 716 desa/kelurahan pada 57 kecamatan di 9 kabupaten/kota di Bali.

Dari jumlah tersebut, pemilih baru per September 2022 tercatat 95.121 orang yang didominasi pemilih berusia 17 tahun atau dikategorikan generasi Z (pemilih milenial). “lebih banyak pemilih milenial, dari usia 16 ke 17 tahun. Dari SMA/SMK yang terdaftar saja itu sudah hampir 80 ribuan. Artinya, memang kalau kita bicara dua tahun ke depan pada 14 Februari 2024, batas 17 tahunnya pasti akan ada peningkatan,” ujar Lidartawan saat merilis PDPB di Denpasar, Senin (3/10).

Baca juga:  Potensi Timbulkan Kerawanan, KPU Bangli Dorong Perekaman E-KTP Dipercepat

Lidartawan menjelaskan, dari 95.121 pemilih baru yang lolos PDPB tidak semuanya berasal dari pemilih usia 17 tahun dan memiliki KTP elektronik, namun ada juga purnawirawan TNI dan Polri. Melihat tingginya angka pemilih baru dari generasi Z untuk pada Pemilu Serentak 2024 KPU Provinsi Bali berupaya melakukan pendekatan melalui sosialisasi ke instansi pendidikan terkait.

“Oleh karena anak muda lebih banyak, maka saya gencar menyosialisasikan ke generasi muda. Saat penerimaan mahasiswa baru kita turun, hampir sebagian besar kita sudah sosialisasi, paling tidak mereka tahu posisinya menentukan bangsa. Kalau mereka kompak memilih A, maka A akan menang karena jumlah mereka 50 persen lebih,” kata Lidartawan.

Meskipun demikian, pihaknya tidak ingin hanya fokus kepada pemilih usia muda dan menerapkan cara lama melalui kegiatan tatap muka, namun berupaya menggaet pemilih lewat sosial media dan lomba-lomba terkait pemilu.

Baca juga:  Gerah Penggunaan Bahan Berbahaya Makanan Marak, Ini Disiapkan

KPU Bali mencoba mengategorikan pemilih berdasarkan komposisi usianya hingga kini generasi X lebih mendominasi. Apalagi, dari total 3.120.035 pemilih, sekitar 30 persen berasal dari pemilih kelahiran 1966-1980 atau berusia 42-56 tahun.

Adapun, komposisi lainnya adalah generasi oldest (kelahiran di bawah 1921) sebanyak 0,03 persen, generasi tradisional (1922-1945) 4,37 persen, baby boomer (1946-1965) 21,02 persen, generasi milenial (1981-1995) 27,59 persen, dan Generasi Z (1996-2010) 16,55 persen.

Pada Pemilu 2024, KPU Bali menargetkan partisipasi pemilih yang menyalurkan hak pilihnya mencapai 83 persen, meskipun rata-rata nasional menargetkan sebesar 79 persen. Angka tersebut berkaca dari pemilu terakhir yang tercatat 82,7 persen di Pulau Dewata.

Tidak hanya itu, Lidartawan juga menyoroti terkait TPS Perempuan di setiap kabupaten/kota di Bali. Pihaknya meminta agar KPU masing-masing kabupaten/kota di Bali membuat TPS Perempuan. Menurutnya, melibatkan perempuan khusus di satu TPS untuk mendorong perempuan bisa tampil lebih, atau yang disebut emansipasi wanita. “Termasuk dari pihak penjagaan, kami akan minta Polwan yang jaga di sana. Bawaslu juga yang jaga pengawas perempuan, termasuk saksi-saksinya harus perempuan,” imbuhnya.

Baca juga:  KPU Catat 40 Parpol Daftar Peserta Pemilu 2024

Lidartawan menambahkan langkah tersebut sebagai mendorong perempuan ikut dalam keterlibatan Pemilu Serentak di tahun 2024. Sehingga tidak ada alasan lagi, jika kekurangan anggota dari kaum perempuan. “Pemilu kemarin kami sudah coba satu TPS Perempuan di Denpasar, hasilnya sangat luar biasa. Rapi tidak ada masalah, pekerjaan tuntas, dan termasuk cepat kerjanya,” ungkapnya.

Bagi Lidartawan inovasi tersebut adalah satu-satunya ada di Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya meminta agar masing-masing Kabupaten/Kota segera mengirimkan data, nama banjar dan nama-namanya yang akan terlibat dalam TPS perempuan ini. Lidartawan menambahkan, selain TPS perempuan itu, dia juga mengaku akan membuat TPS khusus. Seperti di rumah tahanan, wilayah bandara, termasuk TPS yang ramah untuk disabilitas. (Winatha/balipost)

BAGIKAN