Tangkapan layar Menko PMK Muhadjir Effendy saat menyampaikan keterangan pers secara virtual yang diikuti dari Zoom di Jakarta, Kamis (5/5/2022). (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Upaya masif pelacakan Hepatitis akut bergejala berat di setiap daerah didorong untuk dilakukan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, untuk memastikan penyebaran kasus.

“Kita tidak ada jeleknya kalau lebih ofensif. Jadi, tidak menunggu, tapi proaktif melakukan penyisiran agak besar-besaran di setiap daerah untuk memastikan bahwa Hepatitis akut belum menyebar ke mana-mana,” kata Muhadjir Effendy saat menyampaikan keterangan pers secara virtual yang diikuti dari Zoom di Jakarta, seperti dikutip dari kantor berita Antara, Kamis siang (5/4).

Baca juga:  Sebanyak Rp 14,69 Triliun Disiapkan Untuk KIP Kuliah 2025

Muhadjir mengatakan, upaya pelacakan kasus di setiap daerah diharapkan bisa memberi peluang bagi otoritas terkait maupun tenaga medis dalam upaya pencegahan dini penyakit.

Muhadjir mengatakan, informasi terkait penyakit misterius itu mulai ramai diperbincangkan masyarakat, bahkan tidak sedikit oknum yang memanfaatkan situasi itu dengan menyebarkan berita bohong melalui kanal media sosial. “Saya menangkap di media sosial mulai seliweran berita-berita hoaks dikaitkan dengan vaksinasi untuk anak. Kalau tidak segera ditangani, bisa jadi kontra produktif,” katanya.

Baca juga:  Hela-hili Suku Sentani di Jayapura Sambut Jenazah Lukas Enembe

Muhadjir percaya bahwa Kementerian Kesehatan telah sigap mengambil upaya preventif maupun kuratif terhadap gejala Hepatitis akut tersebut. “Hepatitis akut bergejala berat ini sudah menjadi persoalan global karena sudah terjadi di beberapa negara maju,” katanya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengatakan temuan kasus Hepatitis akut berat di Inggris, Amerika Serikat, Singapura dan sejumlah negara lainnya karena didukung dengan instrumen yang sangat canggih mendeteksi penyakit baru. “Artinya, bukan berarti kalau negara maju mengumumkan ada penyakit ini, tapi kalau negara berkembang belum membuat pernyataan, berarti tidak ada di sana,” katanya.

Baca juga:  BRI Rebut 2 Penghargaan Utama Penghargaan ICAII 2022

Respons sigap terhadap kemunculan penyakit baru, kata Muhadjir, menunjukkan bahwa Indonesia dapat dikatakan cukup maju dalam menangani tata kelola kesehatan masyarakat. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN