TABANAN, BALIPOST.com – Kandang sapi milik warga Banjar Gunungsari, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, hancur diterjang longsor senderan irigasi Subak Anyar, Rabu (30/3). Akibatnya, tiga ekor ternak sapi tertimbun longsor, termasuk sawah dengan luas sekitar 20 are juga ikut tertimbun. Kerugian ditimbulkan peristiwa longsor ini mencapai puluhan juta rupiah.

Informasi yang dihimpun, longsor terjadi sekitar pukul 07.00 WITA. Saat itu, pemilik kandang atau korban I Gede Made Duryodana (50) bersama saksi I Nengah Puji (60) alias Pak Bagia sedang mencari rumput di sekitaran lokasi atau sekitaran irigasi Subak setempat.

Baca juga:  Sejak Februari Jalan Longsor Tak Diperbaiki, Mobil Nyaris Terperosok

korban mencari rumput di sekitar persawahan bagian bawah aliran subak, dan saksi mencari rumput di sekitaran aliran subak. Tiba-tiba mereka mendengar suara gemuruh dari arah atas atau dari arah saluran irigasi.

Setelah dicek, korban Gede Duryodana melihat tembok senderan irigasi sepanjang kurang lebih 10 meter amblas atau jebol disertai air aliran irigasi subak mengalir ke bawah. Korban pun langsung berupaya menyelamatkan diri dengan berlari ke arah utara.

Akibat kejadian itu, material longsor tergerus ke bawah hingga jarak 20-25 meter dan menimbun kandang sapi miliknya yang berisi 3 ekor sapi, dua ekor jantan dan satu betina. Selain juga material longsor menimbun sawah milik warga I Nengah Gangga (37) yang berisi tanaman padi dengan luas sekitar 20 are yang baru berusia satu bulan.

Baca juga:  Dari Wabup Edi Kaget hingga Lima Daerah Dominasi Tambahan Kasus COVID-19 hingga 85 Persen

Kapolsek Penebel, AKP I Nyoman Artadana mengatakan, longsor terjadi diduga akibat hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi sejak Selasa sore. Tembok senderan irigasi Subak Anyar sepanjang sekitar 10 meter itu jebol atau amblas karena tergerus aliran air yang cukup besar.

Beruntung tidak sampai menimbulkan korban jiwa. Hanya saja, tiga ekor sapi yang ada dalam kandang tertimbun. Lantaran tiga ekor sapi milik korban dalam keadaan terikat tali. “Akibat kejadian itu, korban Duryodana mengalami kerugian sekitar Rp 21 juta dan Nengah Gangga Rp 25 juta,” terangnya.

Baca juga:  Mensos Apresiasi Aksi Sosial SMSI, Bangun Jalan untuk Bangun Peradaban

Artadana melanjutkan, kemudian untuk warga yang sawahnya terdampak timbunan lonsoran itu juga mengalami hal sama. Sawahnya sekitar 20 are itu masih terisi tanaman padi yang usianya sekitar 1 bulan.

Sejatinya, jika dihitung biaya bibit dan segala halnya hanya Rp 5 Juta, namun untuk penataan sawahnya agar kembali seperti semula membutuhkan biaya tenaga dan waktu yang cukup banyak. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN