Garam- Petani belum memproduksi garam karena masih terkendala cuaca. (BP/Nan)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Petani garam yang tergabung dalam Komunitas Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) di Desa Purwakerti, Kecamatan Abang hingga saat ini belum memproduksi garam. Hal itu disebabkan cuaca.

Ketua MPIG Garam Bali, I Nengah Suanda, mengungkapkan petani belum memproduksi garam, mengingat masih terkendala cauca. Kendati, sudah agak jarang turun hujan, namun dalam sepekan selalu saja terjadi hujan yang membuat produksi garam tak maksimal. “Memang cuaca sudah sering panas. Tapi, hujan masih sering terjadi. Dengan kondisi itu, petani memilih tidak dulu produksi garam,” ucapnya.

Baca juga:  Minat Petani Rendah Pakai Pupuk Organik

Suanda menambahkan, kemungkinan besar, para petani kembali akan memproduksi pada akhir Juli mendatang. “Kalau tidak awal, kemungkinan akhir Juli sudah mulai berproduksi garam lagi,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, meski tak memproduksi garam, akan tetapi stok garam masih aman. Artinya, hingga saat ini masih mampu memenuhi permintaan. Di petani sendiri, total ketersediaan garam mencapai 50 ton. “Stok masih cukup memenuhi permintaan hingga tahun depan,” jelasnya.

Baca juga:  Pertanian Dapat Rp 1,4 Miliar dari Cukai Rokok

Lebih lanjut, dikatakannya, selama pandemi covid-19, yang mempengaruhi sektor pariwisata membaut permintaan garam anjlok hingga saat ini. Permintaan hotel dan restoran serta permintaan dari luar Bali seperti Jawa Barat dan Jakarta hanya berkisar 1 hingga 1,5 ton perbulan. “Kalau sebelum pandemi bisa sampah 2 ton bahkan lebih. Sekarang pesanannya dalam jumlah kecil antara 50 sampai 100 kilogram,” tutupnya. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN